yang kemudian menjadi Sangha raja Thailand, pemimpin tertinggi Sangha seluruh kerajaan. Posisi yang tidak mudah didapat. Posisi yang tidak banyak yang mau tinggalkan. Tapi tanggal 12 Juli 1969 beliau berangkat ke Indonesia sebagai Dhammaduta. Untuk membawa Dhamma ke tanah yang selama beratus tahun melupakan akarnya. Lalu beliau berkeliling Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Temanggung, Rembang, Malang, Surabaya, Madura. Lalu menyebrang ke Palembang, Jambi, Pekanbaru, Medan. Lalu Kalimantan Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin. Lalu Sulawesi – Manado, Gorontalo, Palu, Ujung Pandang. Membabarkan Dhamma ke umat yang sedikit jumlahnya. Di tempat yang jauh dari Bangkok. Tanpa kemewahan istana, Tanpa pengawalan Sangharaja. Hanya jubah saffron, mangkok pindapata, dan ajaran Buddha yang dibawanya ke seluruh negeri ini.
Lima putra Indonesia pertama diupasampada menjadi bhikkhu dalam tradisi Theravada, di bawah bayang-bayang stūpa yang sudah berusia seribu dua ratus tahun. Sangharaja Thailand sendiri yang menjadi Upajjaya dan Bhante Vin sang Dhammaduta muda bertindak sebagai acariya. Lima nama yang hari ini terukir dalam sejarah Sangha kita dan satu jejak yang menjadi awal seluruh Sangha Theravada Indonesia modern. Dua tahun kemudian, tahun 1973 di sebuah vihara kecil bernama Dhamma Surya, di Kaloran, Temanggung seorang anak muda bernama Tejavantoditahbiskan menjadi samanera. Acariya-nya: Bhante Vin Vijano. Anak muda itu kemudian dikenal seluruh Indonesia sebagai Bhante Pannavaro Mahathera yang hari ini, lima puluh tahun kemudian, masih berdiam di Vihara Mendut. Mungkin tidak banyak yang tahu Vihara Mendut sendiri juga diprakarsai oleh Bhante Vin pada tahun 1983. Tanah tiga ribu meter persegi yang ditukar dengan beras. Tidak ada Vihara yang berdiri sendirian. Tapi banyak yang berdiri karena beliau hadir di sana, Vihara Dhammadipa Arama, Batu, Malang. Vihara Mendut, Magelang. Vihara Dhamma Surya, Temanggung. Vipassana Graha dan masih banyak lagi. Tidak semua tercatat di sejarah resmi, tapi tercatat di hati umat yang pernah datang ke teras vihara itu saat hujan turun dan masih mendapat tempat untuk berlindung. Buddha berkata dalam Vanaropa Sutta mereka yang membangun vihara, jembatan, dan menanam pohon untuk orang banyak. Jasa kebaikannya tumbuh siang dan malam tanpa berhenti.
“Aniccā vata saṅkhārā.” Segala yang bersyarat tidak kekal. Termasuk kehidupan seorang Mahathera yang tubuhnya sudah membabarkan Dhamma di empat ribu kilometer nusantara ini. Bhante Vin Vijano Mahathera wafat sekitar dua puluh tahun yang lalu dan abu jasmaninya kembali ke unsur-unsur yang samaseperti yang membentuk kita semua. Yang tinggal bukan tubuhnya. Bukan jubah yang dipakainya. Bukan nama yang disebutnya. Yang tinggal adalah Dhamma yang dibabarkannya. Dan vihara yang dibangunnya. Dan murid-murid yang sampai hari ini masih membabarkan apa yang beliau ajarkan. Buddha pernah berkata dalam Anguttara Nikaya: “Ada dua kualitas yang langka di dunia ini kataññu, tahu berterima kasih dan Katavedī, mengakui balas budi. Tanpa kedua kualitas itu, manusia bagai kayu kering tidak ada apinya.” Untuk umat Buddha Indonesia hari ini kalau kita pernah datang ke vihara yang nyaman dan teduh, kalau kita pernah belajar Dhamma dalam bahasa Indonesia, kalau kita pernah dipinpadana oleh bhikkhu yang berjubah saffron sebagian dari kemudahan itu. Mungkin berakar pada langkah-langkah seorang bhikkhu Thai yang lima puluh enam tahun yang lalu memutuskan untuk tinggal di sini.
terutama yang generasinya seperti kami yang lahir saat banyak vihara sudah berdiri, saat Sangha sudah ada, saat Dhamma sudah diterjemahkan ke Indonesia mungkin kita perlu lebih sering mengucapkan satu kata yang Buddha sangat hormati: terima kasih. Terima kasih kepada para pionir. Terima kasih kepada para acariya yang mengajarkan acariya kita. Terima kasih kepada para Dhammaduta yang datang dari jauh dan memilih untuk tinggal. Bhante Vin Vijano Mahathera sādhu, sādhu, sādhu. Terima kasih.
Leave a Reply