Mantan menteri Nadiem Makarim dituntut 18 tahun penjara pokok, ditambah subsider 9 tahun kalau tidak bisa membayar uang pengganti Rp 5,6 triliun. Total efektif: 27 tahun. Tiga terdakwa lain di kasus yang sama sudah divonis lebih dulu: masing-masing 4 sampai 4,5 tahun. Usai sidang, Nadiem berkata dengan mata berkaca: “Tuntutan saya lebih besar daripada teroris dan pembunuh.”
Mari jernihkan dulu. Tuntutan adalah tuntutan jaksa. Vonis akhir tugas hakim. Kami tidak mengatakan tuntutan itu benar atau salah. Tapi pernyataan Nadiem membuka satu pertanyaan yang sangat Buddhis: Apakah hukuman yang paling berat selalu sama dengan keadilan yang paling tinggi? Buddha sendiri pernah membahas ini.
Buddha menggunakan perumpamaan empat cara melatih kuda. Ada kuda yang sadar dari teguran lembut. Ada yang baru sadar setelah pukulan. Ada yang butuh pukulan keras. Buddha menjelaskan: “Pelatih bijaksana tahu kuda mana butuh perlakuan apa. Bukan yang paling keras yang paling efektif. Tapi yang paling sesuai.” Hukuman dalam Dhamma selalu soal proporsi bukan soal memenangkan
“Kalau hukuman dijatuhkan melampaui kesalahan yang dilakukan penjahat itu akan kembali ke masyarakat dengan luka dan kebencian dan luka itu akan melahirkan kejahatan baru.” Kerasnya hukuman bukan jaminan hilangnya kejahatan. Kadang hanya melahirkan generasi penjahat berikutnya yang lebih marah, lebih dendam, lebih sulit dipulihkan. Tapi mari juga jujur Saat seorang terdakwa berkata “tuntutan saya lebih besar dari teroris dan pembunuh” itu sah secara emosional. Tapi perlu kita uji. Karena setiap hari di Indonesia ada rakyat biasa yang dituntut berat untuk kasus jauh lebih kecil.
• Ada yang dituntut 8 tahun karena mencuri kayu di hutan.
• Ada yang dituntut 7 tahun karena memanen pisang di lahan sengketa.
Mereka tidak punya panggung untuk berkata “tuntutan saya lebih besar dari teroris.” Mereka hanya pergi ke rutan diam-diam. Buddha berkata di Dhammapada: “Bukan orang adil yang memutuskan kasus dengan tergesa-gesa. Orang bijak mempertimbangkan kedua sisi dengan teliti.” Ada kebenaran dari sisi Nadiem: Tuntutan ini memang luar biasa berat. Ada kebenaran dari sisi rakyat: disproporsionalitas adalah masalah lama yang baru sekarang ramai karena seorang figur publik yang merasakannya. Dua-duanya bisa benar pada saat yang sama.
adalah cermin besar yang dipegang di depan sistem peradilan kita.
Saat hukuman berbeda karena akses, posisi, koneksi itu masalah.
Saat hukuman berbeda karena emosi publik dan tekanan media, itu juga masalah.
Saat hukuman tidak proporsional dengan kesalahan ke arah mana pun bias-nya itu masalah yang sama.
Tugas Dhamma di sini bukan memihak Nadiem atau memihak jaksa. Tapi memanggil sistem yang lebih jernih.
ini bukan ajakan untuk membenci satu orang. Bukan juga untuk membela satu orang. Ini ajakan untuk melihat dengan jernih. Vonis Nadiem belum jatuh. Kebenaran masih diuji di ruang sidang. Sambil menunggu mari kita ingat ada juga orang-orang yang sedang menjalani hukuman disproporsional tanpa kamera apapun. Mereka juga perlu doa kita.
Leave a Reply