Rangkaian Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 dari Yayasan Puri Kauhan Ubud tiba & “napak pertiwi” di Wihara Dhammadipa Arama.
Menampilkan persembahan seni sakral:
Wayang Wong Tantri Nandaka Harana
Tarian dramatari bertopeng menghidupkan kisah-kisah leluhur, di bawah kaki Pagoda Shwedagon. Bukan tontonan biasa. Ini budaya sebagai doa.
Oleh Yang Mulia Bhante Dhammasubo Mahathera, dalam tradisi Buddhis. Dan oleh Romo Miswanto, dalam tradisi Hindu.
Delapan Bhikkhu hadir.
Ini bukan basa-basi toleransi.
Ini persaudaraan yang nyata.
Karena akarnya dalam, Seperti tertulis dalam lontar Sutasoma: “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Mangruwa.” Umat Hindu & Buddha adalah saudara sejak Nusantara kuno dan dari sanalah lahir semboyan bangsa kita.
Bisa diringkas dalam satu kata: Welas Asih.
Seperti yang selalu diajarkan Sang Guru Agung, Buddha. Dan yang, sejak dahulu, menjadi fondasi membangun peradaban Nusantara.
Berbeda tetapi, dalam welas asih, bersaudara.
Karena bertepatan dengan HUT ke-55 Wihara Dhammadipa Arama dan menjelang HUT ke-95 Yang Mulia Bhikkhu Kantidharo Mahathera.
Semoga Beliau senantiasa diberi kesehatan & kekuatan untuk membimbing umat.
Untuk semua yang menyatukan:
Para Bhikkhu, Yayasan Dhammadipa Arama, PHDI Kota Batu & Jawa Timur, Kemenag Jatim (Hindu & Buddha), Gusdurian Malang, para seniman & budayawan Malang Raya, komunitas lintas-iman, & Yayasan Puri Kauhan Ubud.
Jadi, ini bukan sekadar acara budaya. Ini adalah Nusantara mengingat jati dirinya: bahwa berbeda itu wajar dan justru dalam perbedaan, kita bersaudara.
Rahayu, Sadhu.
Leave a Reply