Kita diajari menghormati yang lebih tua.
Tapi pernah merasa kebenaran dibungkam atas nama “senioritas”?
Usia jadi tameng kritik.
Gelar jadi benteng ego.
“Aku lebih dulu, maka aku selalu benar.”
“Bukan karena beruban seseorang menjadi sesepuh. Usianya matang tapi ia ‘tua sia-sia’.” (Dhp 260)
kata Buddha:
ia yang di dalamnya ada kebenaran, kebajikan, pengendalian, kebijaksanaan. (Dhp 261)
Kesombongan (māna) adalah belenggu paling bandel baru hancur di tingkat arahant.
Maka ia bisa bersembunyi bahkan di balik wibawa.
Tanda batin matang bukan menolak dikoreksi tapi mau mendengar kebenaran, dari siapa pun ia datang.
Dan jangan-jangan… kita juga?
Merasa lebih berhak karena lebih lama, lebih tahu, lebih dulu?
Hormati usia, ya.
Puja senioritas, tidak.
Yang layak dihormati adalah kebijaksanaan, di umur berapa pun ia tumbuh.
Leave a Reply