Teori ini memang terdengar menarik untuk dipercaya Apalagi bagi sebagian umat Buddha, mungkin muncul rasa bangga kecil: “Wah… berarti sampai Yesus pun belajar Buddhisme.” Bagi pecinta spiritualitas juga terdengar indah: “Berarti semua agama sebenarnya satu sumber.” Namun sesuatu yang terdengar indah belum tentu benar. Jadi sebelum langsung percaya,mari kita lihat dulu: apakah kisah ini benar-benar punya dasar kuat?
Nicolas Notovitch, seorang jurnalis Rusia pada tahun 1894. la menerbitkan buku The Unknown Life Of Jesus Christ. Di dalamnya, ia mengklaim bahwa saat mengunjungi Hemis Monastery, ia diperlihatkan manuskrip Tibet kuno tentang sosok bernama “Saint Issa” yang menurutnya adalah Yesus. Kisah itu mengatakan bahwa Yesus pernah pergi ke India dan mempelajari ajaran Buddha selama tahun-tahun “hilang”-nya. Buku ini kemudian menjadi sangat populer dan sejak saat itu, teori tersebut terus menyebar ke seluruh dunia bahkan masih sering viral di media sosial sampai hari ini. Namun Masalah Mulai Muncul Ketika Para Peneliti Mulai Memeriksa Klaim Tersebut Lebih Dalam. Max Müller – salah satu ahli Sanskrit paling terkenal di University of Oxford ikut menyelidiki cerita ini pada tahun 1894. Hasilnya cukup mengejutkan. Manuskrip “Saint Issa” yang diklaim oleh Nicolas Notovitch ternyata tidak pernah tercatat dalam kanon Buddhis Tibet seperti Kanjur maupun Tanjur. Padahal, jika benar ada manuskrip sepenting itu, seharusnya keberadaannya tercatat dengan jelas. Beberapa waktu kemudian, seorang perempuan Inggris juga datang untuk memeriksa kisah tersebut. Dan Menurut Para Bhiksu di sana: mereka tidak mengenal orang asing bernama Notovitch, bahkan mengatakan ia tidak pernah tinggal di biara itu.
Dan hasilnya terus mengarah pada kesimpulan yang sama. Banyak sejarawan modern baik dari kalangan Kristen maupun sekuler menilai bahwa kisah yang dibawa Nicolas Notovitch hanyalah sebuah fabrikasi. Bahkan beberapa sumber menyebut bahwa Notovitch akhirnya mengakui bahwa cerita tersebut memang dibuat-buat. Penyelidikan demi penyelidikan selalu sampai pada kesimpulan yang sama. Para sejarawan modern baik dari kalangan Kristen maupun sekuler telah sepakat bulat: Cerita Notovitch adalah sebuah fabrikasi (karangan). Bahkan menurut beberapa catatan sumber sejarah, Notovitch sendiri pada akhirnya mengakui bahwa ia telah mengarang seluruh cerita tersebut. Kalau sudah dibantah seratus tahun lalu kenapa teori ini masih viral sampai hari ini? Karena cerita ini memenuhi keinginan banyak orang. Untuk sebagian umat Buddha ada kebanggaan: “Buddhism lebih tua, lebih dalam, sampai Yesus pun belajar dari kita.” Untuk sebagian pencari spiritual ada kenyamanan “semua agama sama, satu sumber.” Untuk konten kreator ada engagement, topik kontroversial selalu menarik klik. Tapi sesuatu yang kita ingin percaya tidak otomatis menjadi benar.
Kita tidak perlu teori ini. Buddhism tidak butuh “meminjam keagungan Yesus” untuk membuktikan nilainya. Ajaran Buddha berdiri sendiri Empat Kebenaran Mulia, Jalan Mulia Berunsur Delapan, ajaran tentang penderitaan dan pembebasannya. Itu tidak menjadi lebih benar kalau Yesus “pernah belajar” dari Buddhism. Dan tidak menjadi kurang benar kalau Yesus tidak pernah. Justru keinginan untuk “merasa menang” atas tradisi lain itu bukan sikap Buddhist yang matang. Itu ego yang berpakaian agama. Untuk teman-teman Kristen yang mungkin membaca ini kami umat Buddha tidak mengklaim Yesus sebagai “murid Buddha.” Yesus adalah figur sentral dalam iman kalian, dengan makna yang sepenuhnya milik tradisi kalian. Kami menghormati itu. Sama seperti kami berharap tradisi kami juga dihormati. Tanpa perlu ada yang mengklaim, mereduksi, atau “menang-menangan.” Toleransi sejati bukan berarti “semua agama sama. “Toleransi sejati berarti: “Ajaranmu adalah ajaranmu, ajaranku adalah ajaranku dan kita bisa hidup berdampingan dengan hormat, tanpa harus saling klaim.”
Apakah Buddhism dan dunia tempat Yesus hidup pernah bersentuhan?
Mungkin, secara tidak langsung. Para sejarawan tahu ajaran Buddha sudah menyebar ke arah barat sejak Raja Asoka (abad ke-3 SM) mengirim misi ke dunia Helenistik. Ide-ide bisa mengalir lewat jalur perdagangan. Tapi itu sangat berbeda dari klaim spesifik bahwa “Yesus secara pribadi belajar di biara Tibet.” Yang pertama: Pertukaran budaya yang wajar antar peradaban. Yang kedua: Fabrikasi seorang jurnalis abad ke-19. Sejarah yang jujur tidak butuh dibumbui legenda. Ia sudah cukup menarik apa adanya.
Konten viral itu adalah legenda tahun 1894 yang sudah dibantah para ahli karena tanpa bukti manuskrip. Namun bagi kita umat Buddha, ada pelajaran yang jauh lebih dalam:
• Tidak Perlu Mengklaim: Kita tidak butuh validasi atau mengklaim siapa pun untuk merasa cukup.
• Berdiri Tenang: Buddhism indah apa adanya, begitu pula tradisi agama lain.
• Toleransi Sejati: Bukan menganggap “semua agama sama”, melainkan “semua dihormati tanpa harus saling memiliki.”
Leave a Reply