Belakangan ini muncul fenomena pemasangan chattra (payung suci bertingkat) di puncak candi atau tempat keramat tanpa mengindahkan kajian ilmiah, arkeologis, maupun aturan warisan budaya. Contohnya, rencana pemasangan chattra di puncak Stupa Candi Borobudur menimbulkan polemik sengit 1.
Di satu sisi, sejumlah tokoh dan umat Buddha meyakini pemasangan payung suci ini akan memperkuat aspek spiritual dan menyempurnakan fungsi Borobudur sebagai tempat ibadah 2. Namun di sisi lain, para arkeolog dan pegiat heritage khawatir tindakan ini justru mengubah keaslian bentuk candi dan melanggar etika konservasi 3. Faktanya, ketika insinyur Theodoor van Erp pernah mencoba memasang chattra hasil rekonstruksinya pada pemugaran 1907-1911, ia terpaksa melepasnya kembali karena dianggap tidak memenuhi kriteria rekonstruksi arkeologis – kombinasi batu asli dan baru tidak proporsional 4. Dengan kata lain, upaya memasang elemen baru tanpa data kuat dipandang merusak integritas struktur asli candi. Tak heran para ahli menolak pemasangan chattra Borobudur karena dinilai berpotensi melanggar etika pemugaran, tidak didukung bukti arkeologis memadai, dan bahkan berbahaya bagi kekuatan struktur stupa induk 5. Fenomena ini menunjukkan kecenderungan “asal pasang” simbol suci tanpa landasan ilmiah yang kokoh, seolah-olah nilai spiritual semata-mata ditentukan oleh hadirnya ornamen fisik di puncak bangunan suci.
Fenomena pemasangan simbol sakral seperti chattra tidak lepas dari narasi mitologis yang melatarinya. Dalam tradisi Jawa, dikenal figur legendaris Sabdo Palon – penasihat spiritual Prabu Brawijaya V (raja terakhir Majapahit) – yang konon mengucapkan ramalan akan “kembali” 500 tahun pasca runtuhnya Majapahit untuk memulihkan kejayaan ajaran budi (Hindu-Buddha) di tanah Jawa 6. Ramalan Sabdo Palon tentang kebangkitan kembali spiritualitas Jawa ini kerap digadang-gadang sebagai nubuat kebangkitan Buddha Dharma, meski realitasnya belum memenuhi ekspektasi 7. Artinya, mitos tersebut acap digunakan sebagian kalangan untuk mengklaim legitimasi kebangkitan kekuasaan spiritual, seolah- olah masa yang diramalkan telah tiba. Selain Sabdo Palon, ada pula konsep mitologis cakravartin – raja dunia dalam khazanah Hindu-Buddha. Cakravartin digambarkan sebagai penguasa universal yang ideal, bijaksana, dan memerintah seluruh bumi dengan keadilan 8. Sepanjang sejarah, ide tentang “raja pemutar roda dunia” ini sering dipakai para penguasa untuk melegitimasi otoritas spiritual atau politik mereka. Dalam konteks sekarang, mitos-mitos semacam itu bisa dijadikan alat klaim kebesaran spiritual: pemasangan chattra misalnya, dimaknai bak pemasangan mahkota cakravartin pada candi, seakan menandai kembalinya “raja suci” atau era spiritual baru. Narasi mitologis ini memberi aura pembenaran sakral, namun patut diwaspadai karena rawan disalahgunakan untuk membenarkan tindakan sepihak atas nama kekuasaan spiritual.
Memasang simbol luar seperti chattra kerap dimaknai keliru sebagai tanda kebangkitan kekuasaan spiritual. Padahal, mengelu-elukan kebangkitan spiritual hanya lewat pemasangan ornamen fisik adalah pemahaman yang dangkal. Spiritualitas sejati tidak diukur dari ada tidaknya payung suci di puncak candi, melainkan dari kualitas pemurnian batin dan peningkatan kesadaran para penganutnya. Ibaratnya, apa gunanya “mahkota” candi dipasang megah, jika jiwa-jiwa di sekitarnya tak kunjung tercerahkan? Bahkan dalam komunitas Buddhis sendiri muncul kritik introspektif: banyak yang sibuk “meninggikan atap” – membangun gedung megah dan simbol kemegahan luar – namun lupa “membangun pondasi” berupa pembinaan rohani dan sumber daya manusia di dalamnya 9. Simbol-simbol luar seperti chattra hanyalah sarana; menjadikannya fokus utama justru berisiko menjauhkan kita dari esensi spiritual sesungguhnya. Alih-alih terjebak euforia simbolik, kebangkitan spiritual semestinya dimulai dari transformasi internal: disiplin moral, meditasi, welas asih, dan kebijaksanaan. Pemurnian batin dan pencerahan kesadaran itulah inti semua ajaran suci, sesuatu yang tak bisa digantikan hanya dengan menambah ornamen fisik pada situs keramat.
Keseimbangan antara gairah spiritual dan akal sehat ilmiah mutlak diperlukan dalam merawat warisan budaya. Jalan tengah mesti diambil: spiritualitas dihormati, namun rasionalitas dan aturan ilmiah juga dijunjung tinggi. Sikap latah meniru simbol luar tanpa telaah kritis hanya akan mencederai baik aspek keilmuan maupun makna rohaninya. Pemasangan chattra atau simbol apapun di situs candi seharusnya melalui kajian mendalam, dialog lintas disiplin, serta kepatuhan pada regulasi cagar budaya. Dengan pendekatan kritis, umat beragama dapat mengejar pemaknaan spiritual yang kaya tanpa mengorbankan integritas warisan nenek moyang. Sebaliknya, bila yang dikejar hanya sensasi “kebangkitan” instan lewat simbol-simbol luar, maka yang didapat hanyalah kebangkitan semu.
Kita perlu mengingat bahwa kekuatan spiritual tidak muncul dari payung suci atau mahkota raja dunia yang dipajang, melainkan tumbuh dari perubahan diri dan kesadaran mendalam. Spiritualitas dan ilmu pengetahuan bukanlah musuh bebuyutan; keduanya bisa bersinergi saling melengkapi. Dengan demikian, upaya pelestarian candi dan situs keramat dapat berjalan beriringan dengan penghayatan nilai-nilai spiritualnya, tanpa jatuh pada ekstrem fanatisme simbolik atau skeptisisme kering. Pendekatan yang tegas, kritis, namun tetap bijak inilah yang akan menjaga kemurnian spiritual sekaligus akal sehat kita.
Terakhir, marilah bersikap waspada terhadap klaim-klaim spiritual yang mengagungkan lambang lahiriah namun abai pada substansi batiniah. Simbol suci seperti chattra seharusnya menginspirasi kita untuk memahami filosofi dan laku spiritual di baliknya, bukan diperalat sebagai stempel pembenar kekuasaan atau kesalehan instan. Dengan berpijak pada pengetahuan ilmiah yang sehat dan penghayatan spiritual yang mendalam, kita dapat merawat warisan leluhur dengan hormat sekaligus memetik esensi sucinya bagi penyucian jiwa kita sendiri. Inilah jalan tengah yang tajam dan lugas: spiritual, namun tetap rasional.
1 2 3 5 Apa Itu Chattra Borobudur dan Kenapa Jadi Polemik?
4 Memahami Chattra dan Melerai Sebuah Polemik – Lamrimnesia
6 Mengulik Kisah Sabdo Palon sang Penasihat dan Penguasa Tanah Jawa – Koran Sulindo
7 9 Komunitas Buddhis Tak Akan Pernah Maju, Jika…
8 Cakravartin: Simbolisme dan makna
10 Candi Borobudur Diusulkan Dipasang Chattra, Apa Itu?
11 Arkeolog Menolak Pemasangan Chatra Borobudur, Dirjen Bimas Buddha Jelaskan dari Segi Perspektif
Keagamaan | Ditjen Bimas Buddha Kemenag RI
Leave a Reply