Motif batik tidak sekadar diwarnai
Ia dilindungi. Lilin menutup bagian tertentu agar warna tidak masuk ke sana. Justru dari bagian yang dijaga, motifnya terbentuk.
Kita juga begitu
Setiap hari, hidup kita “dicelup” oleh: komentar, berita, tren, drama, dan pendapat orang. Tapi semua itu tidak harus menjadi bagian dari diri kita.
Sebelum diberi warna
Dalam proses membatik, kain mori lebih dulu dibersihkan. Kain bersih dulu, baru diberi warna. Menariknya, Buddha pernah memakai perumpamaan yang sangat mirip.
Perumpaan oleh Buddha
Dalam MN 7, Vatthūpama Sutta, Buddha mengibaratkan batin seperti kain. Kain yang kotor membuat warna menjadi kusam. Kain yang bersih menerima warna dengan baik. Yang sedang dibicarakan adalah batin kita.
Apa yang mengotorinya?
Keserakahan, Kemarahan, Dendam. Iri hati, Kekikiran, Kesombongan, Kelalaian. Buddha menyebut berbagai noda batin yang perlu dikenali. Karena yang disadari, bisa mulai dibersihkan.
Siapa yang membentuk motifnya?
Sutra Avatamsaka mengatakan: “Batin seperti seorang pelukis.” Apa yang kita pikirkan, ucapkan, pilih, dan ulang setiap hari… perlahan menjadi pola hidup kita.
Sampai akhirnya dilepas
Di tahap nglorod, lilin pada kain direbus hingga lepas. Barulah motifnya terlihat jelas. Kadang hidup juga begitu. Melepas bukan selalu kehilangan. Kadang justru membuat kita melihat lebih jelas.
“Membatik” diri hari ini
Nggemplong — Berhenti sebentar sebelum buka HP.
Nembok — Jaga satu batas yang penting hari ini.
Nglowong — Lakukan satu kebaikan kecil.
Nglorod — Lepaskan satu hal yang tak perlu terus dibawa.
Batik juga mengajarkan perjumpaan
Batik Indonesia tumbuh dari berbagai perjumpaan budaya. Ada pengaruh Tiongkok, India-Persia, Arab, Eropa, hingga Jepang. Motifnya berbeda-beda. Tapi semuanya bisa hadir di atas satu kain yang sama.
Selamat Hari Batik Nasional
Mungkin hidup kita juga seperti batik. Tidak harus selalu bersih. Tidak harus langsung sempurna. Yang penting, kita terus belajar memilih pola apa yang ingin kita bentuk.
Leave a Reply