Young Buddhist Association (YBA) Indonesia merefleksikan urgensi integrasi kecerdasan buatan dalam praktik dan penyebaran nilai-nilai Buddhis di era digital, dengan penekanan pada etika, welas asih, dan tanggung jawab sosial.
Konferensi internasional bertema “Cultivating Wisdom and Well-being in the AI Era: A Buddhist Vision for the Future” yang digelar pada 5 Desember 2025 di Vajiravudh College, Bangkok, menjadi momentum penting bagi komunitas Buddhis global untuk merenungkan peran teknologi dalam spiritualitas. Tema ini menyediakan wadah bagi para pemimpin dan aktivis Buddhis muda lintas negara untuk membahas etika kecerdasan buatan (AI), kesejahteraan mental, serta integrasi praktik Buddhis dalam era digital 1.
Sebagai organisasi kepemudaan Buddhis yang progresif, YBA Indonesia menegaskan dukungannya terhadap pemanfaatan AI sebagai sarana penyebaran Dhamma (alat propaganda Dhamma) secara etis dan bertanggung jawab, sesuai norma hukum dan moral yang berlaku. YBA melihat bahwa di tengah pesatnya transformasi digital, mengadopsi AI dengan bijaksana bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar ajaran Buddha tetap relevan dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Komitmen YBA untuk tetap relevan, modern, dan berbasis welas asih mendorong organisasi ini memanfaatkan teknologi mutakhir demi kebaikan umat 2.
Di era digital, integrasi AI ke dalam praktik dan penyebaran Buddhisme menjadi semakin mendesak. Generasi muda masa kini tumbuh dengan teknologi sebagai bagian integral kehidupan mereka; oleh karena itu, medium Dhamma pun perlu bertransformasi agar dapat menjangkau hati mereka. Seorang delegasi Indonesia dalam konferensi tersebut, Dresiani Mareti, menegaskan pentingnya mendorong digitalisasi karena umat Buddhis “perlu mengikuti perkembangan era yang sangat modern ini” 3. Artinya, tanpa inovasi digital, ajaran kebijaksanaan Buddha berisiko tertinggal dan kurang tersampaikan kepada audiens muda yang terbiasa dengan gawai dan informasi instan. YBA merefleksikan bahwa AI dapat menjadi perpanjangan upaya dhammaduta (dakwah Dhamma) secara kreatif – mulai dari aplikasi meditasi cerdas, platform belajar Dhamma interaktif, hingga analisis teks Tipitaka dengan machine learning. Semua ini dapat membuka pintu baru bagi generasi digital untuk memahami ajaran kuno dengan cara yang segar dan menarik.
Tidak kalah penting adalah bagaimana AI bisa mendukung kesejahteraan mental generasi digital. Tantangan kesehatan mental semakin nyata di tengah arus informasi cepat dan gaya hidup virtual. Limanyono Tanto, Ketua YBA Indonesia, mengungkapkan keprihatinannya bahwa banyak anak muda mengalami mental breakdown dan belum sempat belajar ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. “Peran kita sebagai sebuah platform adalah membantu mereka yang ingin mempelajari Buddhisme,” ujarnya, seraya berharap adanya kolaborasi lebih luas untuk tujuan tersebut 4. Pernyataan ini menggambarkan urgensi mengintegrasikan AI dan platform digital untuk mendampingi kaum muda menghadapi tantangan batin. Dengan AI, pendampingan tersebut bisa diperkuat – misalnya melalui chatbot konseling berbasiskan belas kasih, modul mindfulness daring, atau konten Dhamma yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan pengguna. YBA melihat teknologi bukan sebagai lawan, melainkan sebagai upaya-upaya baru untuk merangkul umat dan meningkatkan kesejahteraan kolektif sesuai semangat Karuṇā (belas kasih).
Meski menyambut AI dengan antusias, YBA menegaskan bahwa etika harus menjadi fondasi setiap inovasi teknologi. Dalam Buddhisme, perkembangan apa pun – termasuk AI – perlu selaras dengan sila (moralitas), welas asih, dan tanggung jawab sosial. Pada konferensi di Bangkok tersebut, para pembicara berulang kali menggarisbawahi pentingnya dimensi etis ini. Konferensi mengajak peserta merenungkan bahwa kemajuan AI mesti diimbangi pertanyaan: Apakah teknologi ini menambah kebajikan dan mengurangi penderitaan? Jika ya, bagaimana memastikan penggunaannya tetap dalam koridor kebenaran dan kebaikan universal?
Rev. Yoshiharu Tomatsu, salah satu keynote speaker dan tokoh Buddhis dari Jepang, menegaskan komitmennya bahwa perkembangan AI perlu menjunjung inklusi dan rasa saling menghormati bagi semua orang 5. Nilai inklusivitas ini sejalan dengan ajaran Buddha tentang tidak membeda-bedakan mahluk (metta yang universal). AI hendaknya tidak memperlebar kesenjangan atau bias, melainkan menjadi alat pemersatu lintas budaya dan latar belakang. Selain itu, prinsip kejujuran dan tidak membahayakan — terkandung dalam sila pertama dan keempat — harus diterapkan dalam desain sistem AI agar tidak digunakan untuk menyebar hoaks, ujaran kebencian, atau pelanggaran privasi. Seperti diingatkan oleh pakar AI sekaligus guru Buddhis Nikki Mirghafori: standar etika sangat krusial karena ancaman terbesar AI bukanlah “pikiran” mesin itu sendiri, melainkan potensi penyalahgunaan oleh pikiran manusia yang diliputi kelicikan atau keserakahan 6. Oleh sebab itu, YBA mendukung penuh inisiatif merumuskan pedoman etika AI global yang sejalan dengan Dharma, sehingga kecerdasan buatan dikembangkan dengan nilai-nilai kasih sayang, keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab. Langkah ini bukan saja selaras dengan ajaran sīla (etika), mettā (cinta kasih), dan karuṇā (belas kasih) — melainkan juga memastikan bahwa teknologi dipergunakan dengan penuh hormat dan kesadaran demi kebaikan bersama 7.
Penguatan argumen etis dan visioner ini tampak jelas dalam pandangan para keynote speaker konferensi. Prof. Dr. Hansa Dhammahaso (Thailand) misalnya, mengajak peserta melihat perkembangan teknologi melalui lensa welas asih dan mindfulness. Beliau menekankan bahwa keterlibatan umat Buddha dengan masyarakat modern – termasuk dalam urusan AI – harus dijalankan dengan kesadaran penuh, menjembatani kebijaksanaan tradisional dan ilmu pengetahuan modern demi kemaslahatan bersama. Venerable Hansa, yang juga akademisi Buddhis, mendorong kolaborasi cerdas antara Dharma dan sains, seraya mengingatkan bahwa tiada waktu lebih baik selain sekarang untuk menerapkan ajaran Buddha dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari 8 9. Nasihat ini relevan dalam konteks AI: daripada takut atau pasif, komunitas Buddhis seyogianya proaktif memastikan teknologi mencerminkan nilai-nilai luhur.
Dari Korea, Prof. Dr. Park Kwangsoo (pakar Won-Buddhisme) menggarisbawahi bahwa transformasi digital sepatutnya dilihat sebagai kelanjutan alami dari upaya pembaruan Buddhis. Sejarah Buddhisme menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan konteks zaman – dari penyebaran sutra cetak hingga dakwah via radio/televisi. Maka, hadirnya AI adalah episode terbaru bagi Buddhisme untuk berevolusi tanpa kehilangan esensi. Prof. Park mengingatkan bahwa inovasi teknologi tidak perlu ditakuti sebagai ancaman spiritual selama umat berpegang pada inti ajaran: pengembangan kebijaksanaan (paññā) dan welas asih. AI bukan pengganti guru spiritual, melainkan pelengkap yang dapat membantu umat mendalami Dhamma dengan cara baru. Selaras dengan itu, Dr. Minseok Kim (Korea) menyoroti perlunya partisipasi generasi muda dan kerja sama lintas negara dalam memanfaatkan AI untuk tujuan mulia. Sebagai intelektual yang memahami tantangan era digital, Dr. Kim mengajak pemuda Buddhis agar terlibat aktif memastikan teknologi digunakan untuk mempromosikan kebaikan dan pemahaman antarumat, bukan disalahgunakan menyebar misinformasi atau memperuncing konflik. Perspektif ini menggemakan pandangan Idanont Thaiarry, Sekretaris Jenderal WFBY, yang mengakui paradoks dunia maya: teknologi membuat dunia “menyempit” namun juga memicu jarak batin. Tantangannya adalah menjadikan Buddhisme tetap relevan dan menginspirasi kaum muda tanpa kehilangan esensi waktunya 10.
Salah satu contoh konkret pemanfaatan AI yang disorot dalam konferensi datang dari Dr. Nadnapang Phophichit (Thailand). Beliau, seorang ahli Buddhist psychology, mempresentasikan inovasi penggunaan chatbot berbasis prinsip Buddhis untuk meningkatkan ketahanan stres pada masyarakat pekerja 11. Riset Dr. Nadnapang menunjukkan bagaimana prinsip Dharma dan teknologi bisa bersinergi: algoritma AI dilatih dengan psikologi Buddhis guna memberikan dukungan emosional dan latihan mindfulness kepada pengguna. Inisiatif semacam ini membuktikan bahwa AI dapat berperan sebagai “sahabat virtual” yang menuntun pengguna ke arah pemahaman diri dan ketenangan batin, sejalan dengan latihan meditasi tradisional. Dengan kata lain, para pakar di konferensi sepakat bahwa jika dikembangkan dan diarahkan secara benar, AI justru dapat memperkuat praktik spiritual. AI mampu menyediakan akses lebih luas terhadap sutra, membantu rutinitas meditasi, bahkan mempersonalisasi nasihat etis bagi individu – hal-hal yang dulunya tak terbayangkan skala dan kecepatannya.
Dari rangkaian gagasan di atas, teranglah bahwa AI dalam pandangan YBA dan komunitas Buddhis bukanlah monster yang mengancam spiritualitas, melainkan sebuah peluang transformasi. Tentu, setiap perubahan besar menimbulkan kekhawatiran – wajar jika sebagian umat khawatir kehadiran “kecerdasan” buatan akan mendegradasi sentuhan manusiawi dalam praktik agama. Namun, Buddhisme mengajarkan kita untuk melihat hakikat realitas dengan bijak: teknologi pada dirinya netral; manusialah yang memberinya corak positif atau negatif melalui niat dan cara penggunaan. Visi Buddhis untuk masa depan menekankan bahwa kita dapat menundukkan AI menjadi upaya berbuat kebajikan. AI bisa membantu menjawab pertanyaan spiritual para pencari Dhamma di pelosok dunia, menghadirkan guru virtual bagi yang haus bimbingan, atau memperkaya perpustakaan sutra online dengan penerjemahan otomatis yang akurat. Selama Right Intention dan Right Action dijaga, AI justru memperluas jangkauan pengabdian kita kepada semua makhluk.
Lebih jauh, AI menawarkan kesempatan menumbuhkan kebijaksanaan kolektif. Dengan data dan pemrosesan cerdas, kita dapat memahami tren kebutuhan spiritual masyarakat modern dan merumuskan pendekatan Dharma yang lebih efektif. Misalnya, analisis big data bisa mengidentifikasi penyebab stres umum di kalangan anak muda, sehingga komunitas Buddhis dapat proaktif memberikan ajaran yang relevan untuk meredakannya. Inilah implementasi nyata pesan Buddha “bahwa Dhamma harus sesuai dengan tempat, waktu, dan kebutuhan (kalatika)”. Alih-alih terjebak nostalgia romantis pada masa lampau, semangat Buddhis sejati justru adaptif dan selalu mencari cara untuk mengurangi dukkha (penderitaan) di mana pun dan kapan pun. Maka, ketika dihadapkan pada revolusi AI, kita bertanya: Bagaimana alat baru ini dapat dipakai untuk meringankan beban batin manusia? Sikap inilah yang mengubah ketakutan menjadi harapan.
Sebagai penutup, YBA Indonesia mengajak seluruh komponen masyarakat Buddhis – dari Sangha, pusat pendidikan, hingga pemuda pengguna media sosial – untuk bersama-sama mengupayakan kearifan digital. Era AI ini menyerukan respons kolektif yang bijaksana: kita perlu memastikan AI dikembangkan dan digunakan sesuai Dharma, diawasi dengan kebijaksanaan, dan diilhami semangat cinta kasih. YBA berkomitmen akan memfasilitasi dialog lintas sektoral antara pengembang teknologi, tokoh agama, dan pemerintah, agar norma hukum dan etika moral senantiasa menjadi pagar bagi inovasi AI. Dukungan YBA terhadap propaganda Dhamma berbasis AI akan selalu dikaitkan dengan kepatuhan pada nilai-nilai universal dan regulasi yang ada, sehingga umat merasa aman dan diuntungkan.
Konferensi di Bangkok kemarin bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah panjang. Pesan utama yang kami bawa pulang adalah optimisme: Buddhisme punya visi transformatif di era AI. Teknologi mutakhir ini, bila diarahkan dengan benar, dapat menjadi karunia untuk memperdalam praktik spiritual sekaligus memperluas jangkauan dama (ajaran kebenaran). YBA melihat masa depan di mana kuil dan cyberspace saling melengkapi – di mana meditasi hening dan algoritma cerdas berjalan beriringan demi menciptakan masyarakat penuh awareness dan loving-kindness. Tidak ada yang perlu ditakuti dari AI selama manusia berpegang pada kompas moralnya. Sebaliknya, banyak hal baik yang bisa dicapai: kebijaksanaan yang dulunya eksklusif kini bisa diakses inklusif, kesejahteraan batin yang dulu personal kini bisa menjadi kolektif.
Sebagai penutup, kami menggemakan imbauan untuk bertindak sekarang. Seperti disampaikan dalam semangat konferensi tersebut, mari “melangkah dengan kesadaran dan cinta kasih” 12 memasuki era baru ini. YBA mengundang semua pihak untuk berkolaborasi – berbagi pengetahuan, merumuskan etika AI Buddhis, dan mengembangkan program Dhamma berbasis teknologi. Dengan demikian, kita memastikan bahwa AI benar-benar menjadi alat pencerah alih-alih pemecah, servant bagi kemanusiaan alih-alih tuan yang menundukkan. Inilah saatnya cultivating wisdom and well-being in the AI era kita wujudkan bersama: menjadikan kecerdasan buatan sebagai sahabat dalam menapaki jalan pencerahan, demi kebahagiaan semua makhluk tanpa kecuali.
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā – Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
1 3 4 13 14 Peran Pemuda Buddhis Indonesia di WFB dan WFBY Bangkok 2025 | Ditjen Bimas Buddha Kemenag RI
2 7 12 YBA Indonesia Hadir di Bangkok: Berpartisipasi dalam WFB & WFBY Conference 2025 dan Meresmikan Seragam Baru – Young Buddhist Association
5 World Religions Commit To Rome Call On AI In Hiroshima Meeting
6 www.lionsroar.com
8 9 Hansa Dhammahaso | IBSC MCU
10 Thailand’s Buddhist leadership to join global interfaith congress in Kazakhstan
11 Home | Dr-Nadnapang
Leave a Reply