Borobudur bukan sekadar bangunan batu. la adalah mahakarya peradaban, simbol spiritual umat Buddha, sekaligus Warisan Dunia UNESCO yang menjadi milik seluruh umat manusia. Karena itulah, setiap perubahan pada monumen ini selalu membawa konsekuensi yang jauh melampaui aspek fisik.
Kini, perhatian publik kembali tertuju pada rencana pemasangan Chattra Adaptasi di puncak stupa utama Candi Borobudur yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Pemerintah menyatakan pemasangan tersebut merupakan bagian dari penguatan fungsi Borobudur sebagai living heritage serta dilakukan melalui prosedur yang berlaku.
Di sisi lain, sejumlah arkeolog, akademisi, pemerhati cagar budaya, dan organisasi profesional konservasi menyampaikan keberatan berdasarkan pertimbangan ilmiah dan prinsip pelestarian warisan dunia.
Perbedaan pandangan ini seharusnya tidak dipahami sebagai pertentangan antara umat Buddha. Yang sedang diperdebatkan bukan nilai ajaran Buddha, melainkan bagaimana cara terbaik menjaga warisan Buddha yang telah bertahan lebih dari seribu tahun.
Status Borobudur sebagai World Heritage Site membawa tanggung jawab besar. Setiap intervensi terhadap atribut utama situs harus mempertimbangkan prinsip autentisitas, integritas, reversibilitas, serta mengikuti mekanisme yang diatur dalam Operational Guidelines UNESCO.
Prinsip-prinsip tersebut bukan sekadar formalitas administratif. Tujuannya adalah memastikan bahwa warisan dunia tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan nilai sejarah maupun keasliannya.
Bagi sebagian umat Buddha, Chattra merupakan simbol perlindungan Dharma dan kemuliaan Buddha. Secara simbolik, kehadirannya dipandang dapat menyempurnakan makna stupa.
Namun bagi banyak ahli konservasi, persoalan utamanya bukan pada simbol tersebut.
Pertanyaan yang muncul justru bersifat ilmiah.
Apakah terdapat bukti arkeologis yang cukup bahwa Borobudur memang memiliki chattra seperti yang akan dipasang sekarang?
Apakah bentuk yang dipilih benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara akademik?
Apakah pemasangan tersebut telah melalui seluruh prosedur internasional yang berlaku bagi situs Warisan Dunia?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi inti diskusi selama beberapa tahun terakhir.
Pemerintah menegaskan bahwa Chattra yang akan dipasang merupakan Chattra adaptasi berbahan perunggu sehingga jauh lebih ringan daripada batu.
Menurut Menteri Kebudayaan, pemasangan tersebut bersifat reversibel, tidak mengubah struktur asli Borobudur, serta dimaksudkan untuk memperkuat fungsi Borobudur sebagai living heritage bagi umat Buddha. Pemerintah juga menyatakan seluruh proses tetap mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan Indonesia
Di sisi lain, sejumlah pakar konservasi dan ICOMOS Indonesia menyampaikan kekhawatiran bahwa pemasangan tersebut sebaiknya ditunda sampai seluruh kajian selesai dan prosedur internasional benar-benar dipenuhi.
Fokus perhatian mereka bukan pada keyakinan agama, melainkan pada perlindungan nilai universal Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Mereka menilai bahwa keputusan sebesar ini harus didukung data ilmiah yang kuat, transparan, serta terbuka untuk ditelaah publik
Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Yang tidak boleh terjadi adalah perpecahan.
Borobudur tidak dibangun hanya untuk satu organisasi, satu kelompok, satu mazhab, atau satu generasi. Borobudur adalah milik bangsa Indonesia sekaligus warisan seluruh umat manusia.
Karena itu, siapa pun yang menyampaikan dukungan maupun kritik seharusnya didengar berdasarkan kualitas argumennya, bukan berdasarkan identitas organisasinya. Diskusi ilmiah tidak boleh dibungkam. Demikian pula keyakinan keagamaan tidak boleh direndahkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan apabila dilandasi saling menghormati.
Pelestarian warisan budaya tidak hanya menjadi tugas pemerintah. Masyarakat juga memiliki hak untuk mengetahui, memahami, mengawasi, dan memberikan masukan terhadap setiap kebijakan yang menyangkut situs Warisan Dunia.
Partisipasi publik merupakan bagian dari tata kelola warisan budaya modern. Semakin terbuka proses pengambilan keputusan, semakin besar pula kepercayaan masyarakat terhadap hasil akhirnya.
Jika pada akhirnya pemasangan tetap dilakukan, masyarakat berhak mengetahui bahwa seluruh proses telah memenuhi standar ilmiah, hukum, dan konservasi terbaik. Jika masih terdapat pertanyaan yang belum terjawab, masyarakat juga berhak meminta penjelasan secara terbuka dan berbasis data.
Borobudur telah bertahan melewati kerajaan, penjajahan, bencana alam, hingga pergantian zaman. Warisan sebesar ini layak memperoleh perlakuan yang paling hati-hati. Setiap keputusan hari ini akan menjadi preseden bagi generasi berikutnya.
Oleh karena itu, semangat yang perlu kita bangun bukanlah saling menyerang, melainkan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil benar-benar mengutamakan kepentingan pelestarian Borobudur. Karena ketika sebuah perubahan telah dilakukan pada warisan dunia, keputusan itu akan dikenang jauh lebih lama daripada perdebatan yang mengiringinya.
UNESCO World Heritage Centre. Borobudur Temple Compounds.
Direktorat Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama RI. Sinkronisasi Proses Pemasangan Chattra, 10 April 2026.
ANTARA. Fadli: Pemasangan chattra tak mengubah apapun dari Candi Borobudur. 29 April 2026.
detiklateng. Chattra Puncak Borobudur Dibuat Seniman Jogia, Bakal Dipasang Agustus, 31 Mei 2026.
ICOMOS Indonesia. Formal Statement of Concern Regarding the Proposed Installation of a Chattra on the Main Stupa of Borobudur, 10 April 2026. Dirangkum dalam berbagai publikasi.
Lee, So Tju Shinta dan Salim Lee. Polemik Catra pada Stupa Induk Candi Borobudur: Kajian Arkeologi dan Filosofis. Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, Vol. 15 No. 1, 2025.
Young Buddhist Association (YBA) Indonesia — organisasi kepemudaan Buddhis nonsektarian, didirikan 27 Mei 2016 di Surabaya, dengan semangat “Humanity Across Religion.” yba.or.id | @youngbuddhistassociation | #WeAreYoung
Leave a Reply