SURABAYA – Kegagalan, penolakan, perubahan tak terduga, hingga realitas kehidupan yang acapkali berjelajah di luar rencana manusia sering kali menimbulkan kecemasan mendalam. Menjawab tantangan psikologis dan tantangan zaman yang kerap dihadapi oleh generasi muda saat ini, Young Buddhist Association (YBA) Indonesia kembali menyelenggarakan forum bincang Dhamma interaktif bertajuk Grand Mindful Connect 10.
Digelar pada Minggu (18/10/2026) di Dhammacarini Buddhist Studies, Citraland, Surabaya, acara ini diawali dengan kegiatan Dana makan siang kepada Bhikkhu dan makan siang bersama pada pukul 10.00–12.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan sesi Dhammatalk utama mulai pukul 13.00 WIB.
Kegiatan dhammatalk diawali dengan pembacaan Vandana, sambutan dari Dian Juliantine selaku Kepala Sekolah Minggu Buddhis (SMB) Dhammacarini, serta pembacaan profil dari narasumber yaitu Y.M. Bhikkhu Dhammavuddho Thera. Mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika anak muda, “Stay Calm. Keep Going: Menghadapi kegagalan, penolakan, perubahan, dan hidup yang tidak selalu sesuai rencana,” forum diskusi ini dikemas interaktif dan penuh refleksi batin.
Hadir sebagai narasumber utama adalah YM. Bhikkhu Dhammavuddho Thera / Victor Jaya Kusuma, S.Kom., M.M., M.Pd., BKP, yang menjabat sebagai Ketua Sangha Theravada Dhammayut Indonesia (STDI) serta Ketua Umum DPP Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI). Berbekal latar belakang akademis serta pengalamannya di dunia profesional dan konsultan pajak sebelum menempuh jalan kebhikkhuan, Bhante Victor membawa perspektif yang sangat praktis, lugas, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Mengawali pembahasannya mengenai cara menjaga kedamaian batin di tengah situasi yang tidak ideal, Bhante Victor menganalogikan ketahanan mental seorang praktisi Buddhis seperti filosofi bunga teratai. Teratai senantiasa mampu tumbuh indah dan mekar menawan meskipun mengakar di tempat yang penuh lumpur.
Beliau menguraikan bahwa kunci utama untuk tetap tenang adalah dengan belajar menerima (acceptance). Perubahan adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Ketika kita berhenti menolak perubahan dan mulai menerimanya, batin secara otomatis akan menjadi jauh lebih tenang. Mengutip Sutta tentang perumpamaan dua anak panah, beliau mengingatkan bahwa ketika tertembak anak panah kehidupan, fokus utama kita seharusnya adalah mencari obat penyembuh dan solusinya, bukan membuang energi untuk meratapi atau mencari siapa yang menembaknya.
Sesi dialog interaktif berlangsung hangat saat membahas fenomena terkini yang melanda generasi muda, mulai dari tekanan FOMO (Fear of Missing Out), tren media sosial, fenomena doom scrolling, hingga rasa cemas akan disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).
Mengenai godaan konsumerisme dan gaya hidup, Bhante menjelaskan bahwa iklan modern dirancang untuk merangsang indra (kama-guṇa). Beliau mengingatkan generasi muda agar bijak membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum mengambil keputusan. Sementara terkait kekhawatiran terhadap perkembangan AI dan tantangan karier, beliau menekankan pentingnya kesiapan mental, kemampuan beradaptasi, serta komitmen untuk terus memupuk kebajikan (parami) dan karma baik sebagai fondasi masa depan.
Saat menjawab pertanyaan peserta mengenai perasaan minder melihat keberhasilan kawan sebaya, Bhante menuturkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari kepemilikan materi. Beliau mengajak audiens untuk meneladani perjuangan Pertapa Sidhartha yang tidak pernah menyerah saat menghadapi kegagalan latihan selama 6 tahun. Ketika sebuah jalan menemui kebuntuan, hal yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi (vīmaṃsā), berhenti sejenak untuk menata batin, lalu menyesuaikan haluan tanpa menghentikan langkah perjuangan.
Sebagai penutup sesi ceramah, YM. Bhikkhu Dhammavuddho Thera menegaskan kembali bahwa pelaksanaan moralitas (Sīla) dalam kehidupan sehari-hari bukanlah beban atau aturan yang mengekang, melainkan investasi karma baik yang menciptakan kondisi hidup yang aman, harmonis, dan damai.
Kegiatan Grand Mindful Connect lalu diakhiri dengan pemberian cinderamata oleh Bapak Henry Chen selaku Ketua Yayasan dari Dhammacarini Buddhist Studies, pelimpahan jasa dan blessing oleh Bhante Dhammavuddho Thera, dan foto bersama.
Grand Mindful Connect 10 memberikan pesan berharga bagi generasi muda: kita mungkin tidak bisa mengontrol semua variabel eksternal atau hasil dari setiap rencana kita, namun kita memiliki kendali penuh atas bagaimana kita meresponsnya. Dengan menyadari kondisi momen saat ini (present moment), melatih penerimaan, dan terus berbuat baik, kita dapat stay calm (tetap tenang) dan keep going (terus melangkah) melintasi setiap ujian kehidupan.
Tonton selengkapnya di Youtube Channel dari Young Buddhist Association
Young Buddhist Association (YBA) Indonesia — organisasi kepemudaan Buddhis nonsektarian, didirikan 27 Mei 2016 di Surabaya, dengan semangat “Humanity Across Religion.” yba.or.id | @youngbuddhistassociation | #WeAreYoung
Leave a Reply