Tulisan ini lahir dari sebuah percakapan yang indah. Dalam diskusi tentang rencana pemasangan chattra pada stupa induk Candi Borobudur, beberapa umat Buddha dengan tulus membagikan sumber-sumber dari tradisi mereka — kitab Vinaya, ajaran tentang huagai (華蓋), dan ikonografi stupa Tibet — untuk menunjukkan betapa bermakna dan terhormatnya simbol chattra dalam Buddhadharma. Sumber-sumber itu nyata, berharga, dan layak dihormati.
Young Buddhist Association (YBA) Indonesia menyambut sumber-sumber tersebut bukan sebagai bahan perdebatan untuk dimenangkan, melainkan sebagai pengetahuan yang justru memperkaya pemahaman kita bersama. Pesan utama tulisan ini sederhana: **ketika kita membaca sumber-sumber Buddhis dengan jernih dan utuh — bukan sepotong-sepotong — kita menemukan satu kebijaksanaan yang konsisten, yaitu bahwa bentuk stupa tidak pernah seragam, melainkan selalu menyesuaikan tradisi, wilayah, dan zaman.**
Pertanyaan yang ingin dijawab tulisan ini bukan “apakah chattra itu baik?” — karena tentu saja chattra adalah simbol yang indah. Pertanyaannya lebih spesifik: apakah chattra merupakan kewajiban baku yang mengikat semua stupa, termasuk stupa induk Borobudur? Untuk menjawabnya, mari kita baca ketiga sumber itu bersama-sama, dengan hati terbuka dan kepala jernih.
Ketiga sumber yang dibagikan mewakili tiga sudut pandang tradisi Buddhis yang berbeda namun sama-sama otoritatif:
Pertama, sumber dari tradisi Tionghoa (中台世界 / Chung Tai), yang mengutip Vinaya Mulasarvastivada tentang aturan jumlah lapisan chattra.
Kedua, sumber dari Buddhistdoor (佛⾨網) tentang huagai (華蓋) — kanopi sebagai persembahan kepada Buddha.
Ketiga, sumber ikonografi dari Robert Beer tentang baosan (宝伞) — parasol berharga dalam tradisi Buddhis Tibet.
Ketiganya indah. Ketiganya benar dalam konteksnya. Dan menariknya, ketika dibaca utuh, ketiganya justru saling menguatkan satu kesimpulan yang sama — sebuah kesimpulan yang mungkin berbeda dari yang diharapkan, tetapi yang membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam dan lebih damai.
Tradisi Tionghoa Chung Tai mengutip Vinaya Mulasarvastivada (根本說⼀切有部毘奈耶雜事) yang memuat aturan tentang lapisan chattra pada stupa: tiga belas susun untuk Buddha (Tathagata), empat untuk Arhat, tiga untuk Anagamin, dua untuk Sakrdagamin, dan satu untuk Srotapanna. Sekilas, ini tampak seperti aturan yang tegas dan mengikat — dan memang sering dikutip untuk berargumen bahwa stupa Buddha “seharusnya” berchattra tiga belas susun.
Namun, sumber yang sama juga jujur mencatat sesuatu yang penting. Artikel Chung Tai sendiri mengakui bahwa — apa pun jenis stupanya — dalam praktiknya banyak yang tidak mengikuti norma yang disebutkan dalam kitab, dan bahwa setelah Mahayana berkembang, stupa yang dibangun di berbagai tempat tidak selalu sepenuhnya mengikuti apa yang dikatakan teks.
Ini bukan tafsir YBA — ini pengakuan dari sumber tradisi itu sendiri.
Bukti arkeologis memperkuat hal ini. Kajian akademis Lee & Lee (2025) di jurnal Paradigma Universitas Indonesia menunjukkan bahwa Stupa Sanchi No. 1, yang menyimpan relik Sang Buddha, semestinya berchattra tiga belas susun menurut aturan tersebut — namun kenyataannya hanya memiliki tiga susun payung. Stupa Sanchi No. 3, yang menyimpan relik seorang Arhat, semestinya berlapis empat — namun nyatanya hanya satu. Aturan dalam kitab, ternyata, tidak pernah diterapkan secara seragam bahkan di tanah kelahiran agama Buddha sendiri.
Maka pelajaran dari sumber pertama bukanlah “chattra wajib,” melainkan: aturan tentang chattra selalu dipahami secara kontekstual, bukan sebagai hukum baku yang mengikat secara universal.
Buddhistdoor membahas huagai (華蓋) — yang juga disebut tiangai (天蓋) atau baogai (寶蓋) — sebuah kanopi indah yang dalam sutra-sutra Mahayana dipersembahkan kepada Buddha sebagai ungkapan bakti. Dalam Saddharmapundarika (Sutra Teratai), para dewa mempersembahkan kanopi saat Buddha membabarkan Dharma. Dalam Vimalakirti Nirdesa, seorang dewi mempersembahkan kanopi. Makna huagai sungguh agung: simbol Dharma yang “menaungi semua makhluk” (遍覆眾⽣).
Namun perhatikan dengan cermat apa yang sesungguhnya dibahas. Huagai dalam sumber ini adalah alat persembahan (供養具) dan penghias (莊嚴具) yang digantung di atas rupang Buddha atau di langit-langit ruang ibadah. Maknanya terletak pada tindakan dan niat mempersembahkan — bukan pada perubahan permanen terhadap suatu bangunan.
Di sinilah letak sebuah perbedaan halus namun penting. Ada dua hal yang sering tercampur:
Huagai / kanopi persembahan — bersifat digantung, sering tidak permanen, dan maknanya bersumber dari ketulusan niat persembahan.
Chattra arsitektural / yasti — elemen struktural permanen di puncak stupa.
Keberkahan (punya, 功德) dari persembahan huagai, menurut sutra-sutra yang dikutip sendiri, datang dari ketulusan hati (誠敬皈命) — bukan dari mengubah fisik suatu monumen. Justru di sinilah terbuka jalan yang indah: kita dapat menghormati seluruh makna persembahan chattra yang begitu agung ini, dengan cara yang tidak harus mengubah Borobudur secara permanen. Niat sucinya dapat diwujudkan, justru karena kita memahami bahwa yang abadi adalah niat, bukan benda.
Sumber ketiga, dari The Handbook of Tibetan Buddhist Symbols karya Robert Beer, menjelaskan baosan (宝伞) — parasol berharga, salah satu dari Delapan Lambang Keberuntungan (Astamangala). Teks ini menyatakan bahwa tiga belas roda parasol membentuk puncak kerucut berbagai stupa, melambangkan Buddha sebagai Cakravartin. Sekilas, ini tampak menjadi argumen paling kuat bahwa stupa “seharusnya” berchattra tiga belas susun.
Namun sekali lagi, kunci pemahaman ada di dalam teks itu sendiri. Robert Beer secara spesifik menulis bahwa kebiasaan ini kemudian diterapkan pada desain semua stupa Buddhis Tibet (这种习俗后来⽤于所有藏传佛教佛塔的设计上), dan menyebut Atisha — guru besar India yang menghidupkan kembali agama Buddha di Tibet pada abad ke-11 — sebagai rujukan.
Dua kata di sini sangat menentukan: “kemudian” dan “Tibet.”
Borobudur dibangun oleh Wangsa Sailendra di Jawa Tengah sekitar tahun 780–833 Masehi. Standardisasi stupa Tibet yang dijelaskan Robert Beer berkembang lebih dari dua ratus tahun kemudian, dalam tradisi yang berbeda secara geografis dan kultural. Memakai standar stupa Tibet abad ke-11 untuk menilai stupa Jawa abad ke-8 sama seperti menilai arsitektur sebuah katedral dengan denah sebuah masjid — keduanya rumah ibadah yang agung, tetapi masing-masing memiliki bahasa bentuknya sendiri.
Maka sumber ketiga pun, ketika dibaca utuh, mengajarkan hal yang sama dengan dua sumber sebelumnya: bentuk stupa mengikuti tradisi, wilayah, dan zamannya masing masing.
Inilah keindahan yang muncul ketika ketiga sumber dibaca bersama. Mereka tidak saling bertentangan, dan mereka tidak menentang temuan ilmu. Sebaliknya, ketiganya — dari tiga tradisi yang berbeda — menuju satu kesimpulan yang sama:
Dari Vinaya Tionghoa, kita belajar bahwa aturan chattra tidak pernah diterapkan seragam. Dari huagai Mahayana, kita belajar bahwa makna chattra terletak pada niat persembahan, bukan perubahan permanen. Dari parasol Tibet, kita belajar bahwa standardisasi tiga belas susun adalah tradisi lokal yang berkembang belakangan.
Dan inilah yang juga ditemukan oleh ilmu pengetahuan. Kajian Lee & Lee (2025) menunjukkan bahwa dari lebih dari 1.500 stupa di Borobudur, tidak ada satu pun yang berchattra — dan seluruh candi sezaman peninggalan Sailendra di Jawa Tengah (Pawon, Mendut, Kalasan, Sewu, Plaosan, Banyunibo) juga demikian.Iman dan ilmu, sekali lagi, berkata hal yang sama.
Inilah inti dari sikap YBA: Faith AND Science — iman dan ilmu berjalan berdampingan, bukan saling menjatuhkan.
Jika setiap tradisi memiliki bahasa bentuknya sendiri, maka pertanyaannya menjadi: apa bahasa bentuk Borobudur?
Kajian akademis menyimpulkan bahwa stupa induk Borobudur kemungkinan merepresentasikan Dharmakaya — kesadaran tertinggi Buddha, puncak realisasi spiritual yang melampaui segala bentuk dan simbol. Stupa-stupa berterawang di tiga teras melingkar melambangkan Dharmadhatu, alam realitas tempat seluruh pengalaman terjadi. Dalam kerangka ini, kepolosan stupa induk — tanpa hiasan, tanpa payung — bukanlah kekurangan, melainkan justru ungkapan makna terdalam: bahwa yang ultima melampaui segala bentuk.
Ini bukan untuk mengatakan bahwa chattra “salah.” Ini untuk mengatakan bahwa Borobudur, seperti setiap mahakarya spiritual, memiliki integritas desainnya sendiri yang lahir dari pemahaman Buddhadharma yang sangat mendalam. Menghormati Borobudur berarti pertama-tama berusaha memahami bahasa yang telah dipilih para pembangunnya — sebelum kita memutuskan untuk menambahkan kata baru ke dalamnya.
Maka, dengan segala rasa hormat kepada para umat yang membagikan sumber-sumber indah itu, sikap YBA Indonesia tetap konsisten dan utuh:
Kami mendukung pemasangan chattra sebagai sarana kaushalya — upaya terampil untuk moderasi dan persatuan umat Buddha Indonesia. Kerinduan untuk memuliakan Borobudur adalah kerinduan yang suci, dan kami berdiri bersama umat dalam kerinduan itu.
Namun kami juga mengajak agar keputusan ini dibuat dengan menghormati konteks — baik konteks teologis (bahwa chattra tidak pernah merupakan kewajiban baku), maupun konteks historis dan arsitektural Borobudur sendiri. Inilah sebabnya kami mendukung proses yang melalui kajian akademis, Heritage Impact Assessment berstandar, serta konsultasi UNESCO dan ICOMOS.
Sumber-sumber yang dibagikan para umat justru memperkuat sikap ini. Mereka mengajarkan kita bahwa tradisi Buddhis selalu bijak, selalu kontekstual, dan tidak pernah kaku. Dan justru karena kita mencintai tradisi itulah, kita ingin menerapkannya dengan kebijaksanaan yang sama.
Percakapan tentang chattra ini, pada akhirnya, adalah sebuah berkah. Ia menunjukkan bahwa umat Buddha Indonesia peduli — sungguh-sungguh peduli — pada Borobudur dan pada Dharma. Perbedaan pandangan di antara kita bukanlah perpecahan; ia adalah tanda bahwa kita semua mencari kebenaran dengan tulus.
Kepada para umat yang membagikan sumber-sumber berharga itu: terima kasih. Sumbersumber itu tidak kami tolak — kami pelajari, kami hormati, dan kami jadikan bagian dari pemahaman kita bersama. Itulah cara berdialog dalam terang Dharma: bukan saling mengalahkan, melainkan saling menerangi.
Mari kita terus berdialog dengan hati yang terbuka. Mari kita baca sumber-sumber kita secara utuh, bukan sepotong-sepotong. Mari kita hormati iman tanpa mengorbankan ilmu, dan hormati ilmu tanpa merendahkan iman. Dan mari kita kawal masa depan Borobudur bersama-sama — dengan rasa syukur kepada mereka yang telah menjaganya, dengan kejujuran terhadap apa yang dikatakan sejarah, dan dengan cinta yang cukup besar untuk memegang hati dan akal sekaligus.
Karena pada akhirnya, baik iman maupun ilmu menuju ke arah yang sama: kebenaran. Dan kebenaran tidak pernah takut pada pertanyaan.
Faith and Science, hand in hand. Iman dan ilmu, berjalan berdampingan.
Sādhu, sādhu, sādhu.
1 Percakapan dan sumber-sumber yang dibagikan umat Buddha dalam diskusi publik tentang rencana pemasangan Chattra Adaptasi pada Stupa Induk Candi Borobudur, 2026.
2 Posisi dan kerangka editorial YBA Indonesia: “Faith AND Science, not Faith OVER Science.”
3 Kerangka analisis YBA Indonesia atas isu chattra Borobudur, sebagaimana disampaikan dalam forum Kementerian Kebudayaan (3 Desember 2025) dan Kementerian Agama (9 April 2026).
4 中台世界 (Chung Tai World). “佛教藝術 — 佛塔.” Mengutip 《根本說⼀切有部毘奈耶雜事》 (Vinaya Mulasarvastivada Ksudrakavastu). ctworld.org.tw. (Catatan: kutipan Mandarin verbatim perlu diverifikasi langsung ke sumber asli karena perbedaan encoding.)
5 Buddhistdoor (佛⾨網). 2025. “從實⽤傘具到佛法象徵:華蓋⸺遍覆眾⽣、供養如來的功德寶 蓋.” buddhistdoor.org, 12 Desember 2025.
6 Beer, Robert. The Handbook of Tibetan Buddhist Symbols (《藏传佛教象征符号与器物图 解》), entri “宝伞” (chatra/atapatra).
7 Lee, So Tju Shinta & Salim Lee. 2025. “Polemik Pemasangan Catra pada Stupa Induk Candi Borobudur: Kajian Arkeologis dan Filosofis.” Paradigma: Jurnal Kajian Budaya 15(1): 34–56. DOI: 10.17510/paradigma.v15i1.1710. Akses terbuka via UI Scholars Hub.
8 Konsep kaushalya (upāya-kauśalya) dalam tradisi Mahayana — kemampuan menggunakan sarana yang terampil demi kebaikan semua makhluk.
9 Standar pelestarian cagar budaya: Heritage Impact Assessment, konsultasi UNESCO dan
ICOMOS, sebagaimana relevan dengan status Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia
Young Buddhist Association (YBA) Indonesia — organisasi kepemudaan Buddhis nonsektarian, didirikan 27 Mei 2016 di Surabaya, dengan semangat “Humanity Across Religion.” yba.or.id | @youngbuddhistassociation | #WeAreYoung
Leave a Reply