Ringkasan Komprehensif — sebuah refleksi dari Young Buddhist Association Indonesia tentang bagaimana mencintai warisan tidak harus memilih antara hati dan akal.
Tulisan “Chattra Borobudur: Ketika Iman dan Ilmu Berjalan Berdampingan” disusun sebagai refleksi moral dan intelektual bagi umat Buddha — dan seluruh masyarakat Indonesia — dalam menyikapi rencana pemasangan Chattra Adaptasi pada stupa induk Candi Borobudur. Refleksi ini lahir dari semangat Young Buddhist Association (YBA) Indonesia untuk menggali nilai-nilai luhur Buddhadharma sekaligus menjunjung tinggi kejujuran ilmiah, dalam rangka merawat salah satu warisan peradaban paling agung di dunia.1
Pesan utama tulisan ini menegaskan satu keyakinan sederhana namun mendasar: iman dan ilmu tidak harus bertentangan. Dalam menyikapi Borobudur, kita tidak perlu memilih antara menghormati kerinduan spiritual umat atau setia pada kejujuran ilmiah — keduanya dapat, dan seharusnya, berjalan berdampingan. Prinsip inilah yang kami sebut Faith AND Science, bukan Faith OVER Science.2
YBA Indonesia, sebagai organisasi kepemudaan Buddhis nonsektarian dengan jangkauan digital terbesar di dunia, menempatkan diri bukan sebagai pihak yang menolak, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan: antara aspirasi spiritual dan integritas ilmiah, antara cinta pada tradisi dan penghormatan pada kebenaran. Singkatnya, tulisan ini ingin menjembatani kerinduan iman dengan tuntutan ilmu, melalui kajian, refleksi, dan ajakan untuk mengawal Borobudur bersama-sama secara terbuka dan bijaksana.3
Candi Borobudur pernah “tidur” selama berabad-abad, terkubur di bawah abu vulkanik dan ditelan hutan, sampai akhirnya digali kembali pada tahun 1814 atas inisiatif Sir Thomas Stamford Raffles, yang menindaklanjuti cerita penduduk lokal. 4 Sejak itu, Borobudur menjadi kebanggaan tidak hanya umat Buddha, tetapi seluruh bangsa Indonesia dan dunia.
Polemik pemasangan chattra — sejenis payung bertingkat yang lazim menghiasi puncak stupa Buddhis — pada stupa induk Borobudur sesungguhnya bukan isu baru. Diskusi ini telah berlangsung sejak abad ke-19. Theodoor van Erp, yang memimpin pemugaran pertama (1907–1911), bahkan pernah memasang chattra rekonstruksi, lalu menurunkannya sendiri karena tidak dapat mempertanggungjawabkan keasliannya — sebuah teladan kerendahan hati ilmiah. 5
Pada Kamis, 9 April 2026, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI mengundang 54 organisasi Buddhis se-Indonesia ke Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta, untuk menindaklanjuti rencana pemasangan Chattra Adaptasi. 6 YBA Indonesia termasuk yang diundang, diwakili oleh Ketua YBA Jakarta, Antonius Rizaldy. Forum yang dipimpin Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi, ini menjadi momen langka: berbagai tradisi Buddhis — Theravada, Mahayana, Tantrayana, Tridharma, Nichiren — duduk bersama di satu meja.
Sebuah kajian akademis yang terbit di jurnal ilmiah Universitas Indonesia, Paradigma: Jurnal Kajian Budaya (Lee & Lee, 2025), memberikan sejumlah temuan yang penting untuk direnungkan dengan hati terbuka. 7
Dari lebih dari 1.500 stupa yang terdapat di Borobudur — mulai dari stupa kecil di pagar langkan, stupa berlubang di teras melingkar, hingga stupa induk di puncak — tidak ada satu pun yang memiliki chattra. Semuanya berbagi bentuk yang sama: badan menyerupai lonceng, harmika, dan yasti, tanpa payung di atasnya. Keseragaman ini menunjukkan satu kesatuan konsep dan desain yang utuh serta disengaja. 7
Lebih dari itu, candi-candi Buddhis sezaman peninggalan Wangsa Sailendra di Jawa Tengah — Candi Pawon, Mendut, Kalasan, Sewu, Plaosan, dan Banyunibo — semuanya juga tidak ber-chattra. Ini bukan kebetulan, melainkan gaya arsitektur khas Jawa Tengah abad ke-8 hingga ke-9. 7 Bahkan relief Borobudur sendiri seakan berbicara: di antara berbagai stupa yang dipahat pada dindingnya, lebih banyak yang digambarkan tanpa chattra. Pada salah satu panil relief (IV.13), terdapat gambar stupa besar tanpa chattra yang bentuknya sangat mirip dengan stupa induk — seolah para pembangun Borobudur sedang menggambarkan cita-cita desain mereka sendiri. 7
Kajian ini menyimpulkan bahwa stupa induk Borobudur kemungkinan merepresentasikan Dharmakaya — kesadaran tertinggi Buddha, puncak realisasi spiritual yang melampaui segala bentuk dan simbol. Namun, temuan ilmiah ini bukanlah palu untuk menghancurkan kerinduan umat, melainkan lampu untuk menerangi diskusi. 7
Dalam tradisi Buddhis, chattra memiliki makna yang indah dan mendalam. Ia adalah lambang penghormatan, sebagaimana payung yang dahulu dipayungkan di atas kepala raja dan tokoh agung. Dalam berbagai sutra Mahayana — seperti Saddharmapundarika (Sutra Teratai) dan Vimalakirti Nirdesa — kanopi dan payung dipersembahkan kepada Buddha sebagai ungkapan bakti tulus, simbol Dharma yang “menaungi semua makhluk.” 8 Dalam tradisi Buddhis Tibet, tiga belas susun parasol bahkan menjadi bagian integral dari desain stupa, melambangkan Buddha sebagai Cakravartin. 9
Kerinduan untuk memasang chattra, dengan demikian, bukanlah kerinduan yang kosong. Ia berakar pada cinta yang dalam terhadap Buddha dan Dharma — dan cinta itu layak dihormati, bukan diejek. Yang menarik, ketika sumber-sumber tradisi ini dibaca dengan teliti, ditemukan satu kebijaksanaan yang konsisten: bentuk stupa tidak pernah seragam di seluruh dunia. Ia selalu menyesuaikan diri dengan tradisi, wilayah, dan zamannya. Stupa di India berbeda dengan di Tibet; stupa di Tibet berbeda dengan di Jawa. 9 Bahkan dalam kitab Vinaya yang kadang dikutip untuk mengatakan chattra itu “wajib,” dalam praktiknya aturan itu tidak pernah diterapkan secara seragam. Stupa Sanchi yang menyimpan relik Buddha, misalnya, hanya memiliki tiga susun payung — bukan tiga belas sebagaimana sebagian tafsir “seharusnya.” 7 Tradisi Buddhis, ternyata, selalu lebih kaya dan lebih luwes daripada satu aturan tunggal.
Sebenarnya Sepakat Inilah momen yang indah: ketika iman dan ilmu sama-sama didengarkan dengan jujur, keduanya ternyata tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Ilmu mengatakan bahwa bentuk stupa mengikuti tradisi, wilayah, dan zaman. Iman — melalui sumber-sumber Buddhis sendiri — juga mengatakan hal yang sama: tidak ada satu standar tunggal, setiap tradisi punya bahasanya sendiri. Ilmu menemukan bahwa Borobudur memiliki kesatuan desain yang khas dan disengaja. Iman memahami stupa induk Borobudur sebagai representasi Dharmakaya, kesadaran tertinggi yang melampaui bentuk.
Ketika keduanya berbicara, mereka tidak saling membantah. Inilah pesan inti YBA Indonesia: kita tidak perlu mengorbankan iman demi ilmu, atau ilmu demi iman. Kita dapat — dan harus — memuliakan keduanya.
Di forum 9 April 2026, posisi YBA Indonesia disampaikan dengan jelas dan rendah hati: kami mendukung pemasangan chattra di Borobudur, dengan tiga syarat yang menghormati baik iman maupun ilmu. Ketiga syarat tersebut adalah:
1. Secara religi — sebagai sarana kaushalya. Kaushalya (upaya terampil) adalah kemampuan menggunakan situasi yang ada untuk kebaikan semua makhluk. Chattra dapat menjadi sarana moderasi dan persatuan umat Buddha Indonesia yang selama ini tersebar dalam berbagai tradisi. Melihat 54 organisasi dari berbagai aliran duduk bersama, benih persatuan itu mulai tumbuh. 10
2. Secara ilmiah — sejalan dengan kajian akademis. Proses pemasangan harus selaras dengan masukan para arkeolog dan kajian akademis. Data sejarah — termasuk temuan bahwa seluruh stupa di Borobudur dan candi sezaman tidak ber-chattra — harus menjadi bagian dari keputusan, bukan diabaikan. Data memperkaya proses, bukan menghalanginya. 7
3. Secara warisan budaya — adaptasi yang bertanggung jawab. Konsep living heritage memang mengizinkan adaptasi, tetapi adaptasi yang bertanggung jawab: melalui Heritage Impact Assessment yang memenuhi standar, konsultasi dengan UNESCO dan ICOMOS, serta uji publik yang representatif. 6
Sebelum berdebat tentang apa yang akan ditambahkan ke Borobudur, ajaran pertama Buddhadharma yang ingin dihidupkan adalah Kataññutā — rasa syukur dan tahu berterima kasih. Borobudur yang dinikmati hari ini adalah buah dari tangan-tangan yang tak terhitung jumlahnya:
Penduduk lokal, yang menjaga ingatan tentang candi meski ia terkubur.
Sir Thomas Stamford Raffles dan tim penggali (1814), yang membangunkan Borobudur dari tidur panjangnya. 4
Theodoor van Erp (pemugaran I, 1907–1911), yang memimpin restorasi dengan integritas luar biasa, bahkan menurunkan chattra rekonstruksinya sendiri demi kejujuran ilmiah. 5
Prof. Dr. R. Soekmono dan Pemerintah RI era Presiden Soeharto (pemugaran II, 1973–1983), yang bekerja sama dengan UNESCO menyelamatkan Borobudur untuk dunia. 7
Para arkeolog — yang sebagian besar bukan umat Buddha — yang mengabdikan hidup mereka untuk warisan ini. Warga sekitar Borobudur, yang dari generasi ke generasi menjaga candi ini hingga hari ini. Tanpa mereka semua, umat Buddha Indonesia tidak akan pernah bisa bersujud di hadapan Borobudur. Mengakui jasa mereka adalah langkah pertama sebelum kita bertanya “apa yang ingin kita ubah.”
Mungkin ada yang berpikir, “Ini urusan umat Buddha, bukan urusan saya.” Namun Borobudur adalah milik kita semua. Ia bukan hanya tempat ibadah umat Buddha, melainkan bukti bahwa nenek moyang bangsa Indonesia pernah membangun sesuatu yang membuat seluruh dunia terdiam kagum. Ia adalah salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO — sebuah kehormatan yang membawa tanggung jawab internasional. 11 Ketika kita berbicara tentang bagaimana memperlakukan Borobudur, kita sebenarnya sedang berbicara tentang siapa kita sebagai bangsa: apakah kita bangsa yang menjaga warisannya dengan kebijaksanaan, yang mampu memadukan cinta pada tradisi dengan penghormatan pada ilmu pengetahuan. Kami percaya jawabannya adalah ya.
Kini, setelah menggali inti persoalan ini, tibalah saatnya merenung dan bertindak. Borobudur telah bertahan lebih dari dua belas abad — selamat dari letusan gunung berapi, dari pengabaian, dari pencurian, dari lupa. Kini ia berada di persimpangan baru, dan keputusan yang kita buat hari ini akan diwariskan kepada anak-cucu kita.
YBA Indonesia tidak datang untuk menambah perpecahan, melainkan untuk membangun jembatan — antara iman dan ilmu, antara tradisi dan kebenaran, antara kerinduan umat dan tanggung jawab terhadap warisan dunia. Kami percaya bahwa mencintai Borobudur tidak berarti harus memilih antara hati dan akal. Justru cinta yang sejati adalah cinta yang berani memegang keduanya sekaligus.
Kepada para pemimpin di Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha sebagai pengayom moral umat Buddha — kami menyampaikan dukungan dan rasa hormat. Kepada Kementerian Kebudayaan dan semua lembaga penjaga warisan budaya — kami mengulurkan tangan untuk berkolaborasi secara terbuka dan transparan. Dan kepada seluruh umat Buddha serta masyarakat Indonesia — kami mengajak: mari kita kawal proses ini bersama, dengan hati yang terbuka dan pikiran yang jernih.
Apa pun agama dan latar belakang kita, penghormatan pada warisan, kejujuran, dan kebijaksanaan adalah nilai-nilai universal yang patut kita pegang teguh. Mari kita jadikan Borobudur teladan tentang bagaimana sebuah bangsa merawat warisannya: bukan dengan tergesa, bukan dengan memaksakan, melainkan dengan penuh syukur, ilmu, dan cinta.
Karena pada akhirnya, ini bukan tentang siapa yang menang dalam perdebatan. Ini tentang Borobudur — kebanggaan kita bersama — dan tentang bagaimana kita, generasi penjaganya hari ini, memilih untuk mencintainya dengan bijaksana.
Faith and Science, hand in hand. Iman dan ilmu, berjalan berdampingan.
Sādhu, sādhu, sādhu.
1 Young Buddhist Association Indonesia. Pernyataan sikap dan refleksi kelembagaan atas rencana pemasangan Chattra Adaptasi, 2026. — yba.or.id
2 Kerangka “Faith AND Science, not Faith OVER Science” — posisi editorial dan advokasi YBA Indonesia dalam isu pelestarian Borobudur
3 Posisi YBA Indonesia sebagaimana disampaikan dalam Diskusi Kelompok Terpumpun Kementerian Kebudayaan (3 Desember 2025) dan Rapat Tindak Lanjut Kementerian Agama (9 April 2026).
4 Soekmono, R. 1976. Chandi Borobudur: A Monument of Mankind. Amsterdam: UNESCO Press; Raffles, T.S. 1817. The History of Java. — UNESCO: Borobudur Temple Compounds
5 Lee, So Tju Shinta & Salim Lee. 2025. “Polemik Pemasangan Catra pada Stupa Induk Candi Borobudur.” Paradigma: Jurnal Kajian Budaya 15(1): 37. — doi.org/10.17510/paradigma.v15i1.1710
6 Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Kementerian Agama RI. 2026. Surat Undangan Rapat Tindak Lanjut Pemasangan Chattra Adaptasi pada Stupa Induk Candi Borobudur. Nomor B-238/DJ.VII/Dt.VII.I.1/BA.04/04/2026, 6 April 2026. — bimasbuddha.kemenag.go.id
7 Lee, So Tju Shinta & Salim Lee. 2025. “Polemik Pemasangan Catra pada Stupa Induk Candi Borobudur: Kajian Arkeologis dan Filosofis.” Paradigma: Jurnal Kajian Budaya 15(1): 34–56. — doi.org/10.17510/paradigma.v15i1.1710 · Akses terbuka (UI Scholars Hub)
8 Buddhistdoor (佛⾨網). 2025. “從實⽤傘具到佛法象徵:華蓋⸺遍覆眾⽣、供養如來 的功德寶蓋.” 12 Desember 2025. — buddhistdoor.org
9 Beer, Robert. The Handbook of Tibetan Buddhist Symbols (《藏传佛教象征符号与
器物图解》), entri “宝伞” (chatra/atapatra). — datathangka.com
10Konsep kaushalya (upāya-kauśalya) dalam tradisi Mahayana; kataññutā dalam
Anguttara Nikaya (AN 2.31–32).
11UNESCO World Heritage Centre. “Borobudur Temple Compounds.” Inscribed
1991. — whc.unesco.org/en/list/592
Young Buddhist Association (YBA) Indonesia — organisasi kepemudaan Buddhis nonsektarian, didirikan 27 Mei 2016 di Surabaya, dengan semangat “Humanity Across Religion.” yba.or.id · @youngbuddhistassociation · #WeAreYoung
Leave a Reply