Dharma & Realita

Home / Dharma & Realita / Ullambana 2026: Menghidupkan Bakti, Menumbuhkan Kebajikan, dan Melimpahkan Jasa bagi Semua Makhluk melalui Pembacaan Sutra Berbahasa Indonesia

Ullambana 2026: Menghidupkan Bakti, Menumbuhkan Kebajikan, dan Melimpahkan Jasa bagi Semua Makhluk melalui Pembacaan Sutra Berbahasa Indonesia

Minggu, 16 Agustus 2026

SURABAYA — Bakti kepada orang tua dan leluhur dalam ajaran Buddha bukan sekadar mengenang masa lalu. Bakti adalah praktik yang hidup—diwujudkan melalui perhatian ketika orang tua masih bersama kita, melalui rasa terima kasih atas segala pengorbanan mereka, dan melalui kebajikan yang kita dedikasikan ketika mereka telah tiada.

 

Semangat inilah yang menjadi inti kegiatan Pelimpahan Jasa & Sanghadana di Bulan Ullambana 2026 yang diselenggarakan oleh Young Buddhist Association of Indonesia (YBA) pada Minggu, 16 Agustus 2026, di Moonlight Chapel, Pakuwon Golf & Family Club, Surabaya. Kegiatan menghadirkan Y.M. Bhiksu Bhadra Pala Mahasthavira (Suhu Xian Bing) selaku Dewan Pelindung YBA bersama lima anggota Sangha lainnya.

 

Berbeda dari Ullambana yang hanya dipandang sebagai ritual tahunan, perayaan tahun ini membawa sebuah pesan penting: ajaran yang terkandung dalam sutra perlu dipahami, direnungkan, kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan tersebut, generasi muda diajak tidak berhenti pada mengetahui nama Ksitigarbha Sutra dan Ullambana Patra Sutra, melainkan memahami pesan tentang tanggung jawab, sebab-akibat, rasa terima kasih, bakti, dan welas asih di dalamnya.

Ullambana: Ketika Rasa Terima Kasih Menjadi Praktik Dharma

 

Tradisi Ullambana berkaitan erat dengan kisah Maha Moggallāna, salah satu siswa utama Buddha. Dalam Ullambana Sutra, Maha Moggallāna mengetahui bahwa ibunya yang telah meninggal mengalami penderitaan di alam preta. Ia ingin menolong ibunya, tetapi usahanya sendiri tidak mencukupi. Atas petunjuk Sang Buddha, ia kemudian melakukan persembahan kepada komunitas Sangha dan mendedikasikan kebajikan tersebut bagi ibunya.

 

Di balik kisah tersebut terdapat pesan yang jauh lebih dalam daripada sebuah ritual bagi mereka yang telah meninggal.

 

Ullambana mengajak kita bertanya: Sudahkah kita benar-benar menyadari kebaikan yang pernah kita terima?

 

Kita hidup hari ini bukan hanya karena usaha kita sendiri. Ada orang tua yang merawat ketika kita belum mampu menjaga diri. Ada keluarga yang mendampingi. Ada guru yang membimbing. Ada masyarakat yang menopang kehidupan kita. Bahkan berbagai kondisi yang memungkinkan kita mengenal Dharma merupakan hasil dari begitu banyak sebab dan kondisi.

 

Karena itu, rasa terima kasih dalam Buddhisme tidak seharusnya berhenti sebagai perasaan. Rasa terima kasih perlu berubah menjadi tindakan kebajikan.

 

Selagi orang tua masih hidup, bakti dapat diwujudkan melalui waktu, perhatian, komunikasi yang baik, kesabaran, dan kepedulian. Setelah mereka tiada, kita tetap dapat mengenang kebajikan mereka, meneruskan nilai-nilai baik yang diwariskan, melakukan kebajikan, dan mendedikasikannya dengan hati penuh rasa syukur. Semangat inilah yang juga ditekankan dalam Ullambana YBA 2026.

 

Berbakti bukan hanya mengenang mereka yang telah pergi. Berbakti berarti memperbaiki cara kita hidup hari ini.

Membaca Ksitigarbha Sutra, Membaca Kembali Kehidupan Kita

 

Salah satu bagian utama Ullambana YBA 2026 adalah pembacaan Ksitigarbha Sutra secara lengkap dalam Bahasa Indonesia. Pembacaan dibagi menjadi tiga bagian—awal, tengah, dan akhir—dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Ullambana Patra Sutra. Penggunaan Bahasa Indonesia secara khusus dimaksudkan agar umat tidak sekadar mengikuti bunyi pendarasan, tetapi dapat memahami pesan yang dibacakan.

 

Hal ini menjadi penting karena Ksitigarbha Sutra sesungguhnya menghadirkan banyak bahan perenungan bagi kehidupan modern.

 

Ksitigarbha Bodhisattva dikenal melalui tekad agung untuk menolong makhluk yang mengalami penderitaan. Di balik gambaran tersebut terdapat nilai tentang tekad, tanggung jawab, bakti, hukum sebab dan akibat, serta keberanian untuk tidak berpaling dari penderitaan makhluk lain. Nilai-nilai inilah yang ditekankan YBA agar dapat dibawa ke lingkungan keluarga, pekerjaan, komunitas, dan kehidupan sosial.

 

Membaca Ksitigarbha Sutra karenanya dapat menjadi kesempatan untuk membaca kembali diri sendiri.

 

Ketika sutra berbicara mengenai sebab dan akibat, kita dapat bertanya: Sebab seperti apa yang sedang saya tanam melalui ucapan dan tindakan saya hari ini?

 

Ketika sutra berbicara mengenai penderitaan, kita dapat bertanya: Apakah saya cukup peka terhadap penderitaan orang-orang di sekitar saya?

 

Ketika sutra berbicara mengenai bakti, kita dapat bertanya: Apakah saya sudah memperlakukan orang tua dan keluarga dengan baik, atau baru menyadari nilainya ketika kehilangan datang?

 

Dengan cara demikian, sutra tidak lagi terasa sebagai teks yang jauh dari kehidupan. Dharma menjadi cermin untuk melihat cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak.

Sanghadana: Belajar Memberi dan Menopang Kehidupan Dharma

 

Rangkaian Ullambana juga menghadirkan Shang Gong, yakni persembahan kepada Buddha dan Bodhisattva, serta Sanghadana, persembahan kepada anggota Sangha dalam tradisi Mahayana.

 

Dalam latihan Buddhis, dāna atau kemurahan hati merupakan salah satu fondasi penting kehidupan spiritual.

 

Ketika memberi, kita sedang belajar melepaskan keterikatan. Kita melatih diri untuk tidak selalu bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?”, tetapi mulai bertanya, “Apa yang dapat saya berikan?”

 

Sanghadana juga mengingatkan bahwa keberlangsungan Buddha Dharma tidak berdiri sendiri. Dharma dapat terus dipelajari oleh generasi berikut karena ada Sangha yang menjalankan kehidupan kebhiksuan, ada umat yang mendukung, ada guru yang mengajarkan, dan ada komunitas yang bersama-sama menjaga praktik kebajikan.

 

Karena itu, persembahan bukan semata soal materi. Yang sedang dilatih adalah pikiran yang bersedia memberi.

 

Dan ketika pemberian dilakukan dengan niat yang bersih, tanpa tuntutan balasan dan dengan harapan agar kebajikan membawa manfaat bagi banyak makhluk, dāna menjadi latihan untuk mengikis keakuan sekaligus menumbuhkan welas asih.

Pelimpahan Jasa: Memperluas Kebajikan Melampaui Diri Sendiri

 

Menjelang sore, umat mengikuti pelimpahan jasa atau Chao Du, disertai pembacaan nama-nama leluhur dan anggota keluarga yang telah meninggal. Ruang pelimpahan kebajikan juga diberikan bagi janin atau bayi yang meninggal sebelum maupun saat kelahiran serta mereka yang memiliki hubungan karma dengan kehidupan seseorang.

 

Pelimpahan jasa mengajarkan sebuah perubahan orientasi yang sangat mendasar.

Biasanya kita melakukan sesuatu dan berpikir, “Semoga ini baik untuk saya.”

 

Dalam pelimpahan jasa, ruang batin diperluas:

Semoga kebajikan ini tidak berhenti pada diriku.

Semoga orang tua dan leluhur memperoleh manfaat.

Semoga mereka yang sedang menderita memperoleh kondisi yang lebih baik.

Semoga semua makhluk menuju terbebas dari penderitaan.

 

Di sinilah praktik Buddhis bergerak dari “aku” menuju “kita”, dari kepentingan pribadi menuju Bodhicitta dan welas asih yang lebih luas.

 

Pelimpahan jasa bukan alasan untuk mengabaikan kehidupan sekarang. Justru sebaliknya: bila kita sungguh ingin mendedikasikan kebajikan kepada orang yang kita cintai, maka kita terlebih dahulu perlu menciptakan kebajikan itu melalui kehidupan kita sendiri—melalui ucapan yang baik, tindakan yang tidak merugikan, kemurahan hati, pengendalian diri, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.

Dari Leluhur hingga Sesama: Bakti yang Semakin Luas

 

Ullambana YBA 2026 juga memperoleh makna kontekstual karena dilaksanakan satu hari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, doa dan pelimpahan kebajikan didedikasikan pula bagi para pahlawan yang telah berkorban bagi bangsa Indonesia. YBA bersama Sangha dan umat juga mendedikasikan doa kepada masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.

 

Di sini kita dapat melihat bagaimana bakti berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas.

 

Kita berterima kasih kepada orang tua karena dari merekalah tubuh dan kehidupan ini berawal. Kita mengenang leluhur karena kehidupan hari ini berdiri di atas kehidupan generasi sebelumnya. Kita mengenang para pahlawan karena kedamaian dan kebebasan yang kita nikmati juga terbentuk dari pengorbanan banyak orang. Dan kita membuka hati kepada korban bencana karena penderitaan sesama manusia tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari diri kita.

 

Welas asih tidak menanyakan apakah seseorang adalah keluarga kita terlebih dahulu sebelum peduli.

 

Inilah salah satu wajah Engaged Buddhism: Dharma tidak berhenti di altar, ruang puja, atau halaman sutra. Dharma hadir ketika seseorang memilih untuk lebih sabar kepada keluarganya, menolong mereka yang mengalami kesulitan, bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, menjaga ucapannya, berdamai dengan masa lalu, dan mengurangi penderitaan di lingkungan tempat ia hidup.

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Mulai Berbakti

 

Salah satu renungan terpenting dari Ullambana mungkin justru sangat sederhana:

Jangan menunggu seseorang menjadi nama yang dibacakan dalam pelimpahan jasa untuk mulai menghargainya.

 

Kita sering mempunyai waktu untuk begitu banyak hal, tetapi lupa menyediakan waktu bagi orang tua. Kita mudah berkata baik kepada orang lain, tetapi terkadang berbicara keras kepada keluarga sendiri. Kita dapat menunjukkan kepedulian kepada dunia melalui media sosial, tetapi lupa menanyakan kabar seseorang yang tinggal di rumah yang sama.

 

Ullambana mengingatkan kita bahwa segala sesuatu tidak kekal.

Kesempatan untuk mengatakan terima kasih tidak selalu ada selamanya.

Kesempatan meminta maaf tidak selalu menunggu kita siap.

Kesempatan menemani orang tua juga memiliki batas waktunya sendiri.

 

Karena itu, bakti terbaik kepada mereka yang masih hidup adalah menghadirkan kebaikan selagi kesempatan itu masih ada.

 

Dan kepada mereka yang telah mendahului kita, rasa kehilangan tidak harus berakhir sebagai kesedihan. Kita dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat: melakukan kebajikan, menolong makhluk lain, mendukung Dharma, memperbaiki diri, lalu mendedikasikan semua kebajikan tersebut dengan penuh rasa syukur.

Ullambana Bukan Hanya Tentang Kematian, tetapi Tentang Cara Kita Hidup

 

Pada akhirnya, Ullambana bukan semata-mata sebuah peringatan tentang mereka yang telah meninggal.

 

Ullambana adalah pengingat bagi mereka yang masih hidup.

 

Apakah kita menjalani kehidupan dengan rasa terima kasih?

Apakah kehadiran kita mengurangi atau justru menambah penderitaan orang lain?

Apakah kita sedang menciptakan sebab-sebab kebajikan yang kelak dapat kita dedikasikan?

Apakah orang tua dan keluarga merasakan cinta kasih kita hari ini?

 

Melalui pembacaan Ksitigarbha Sutra dan Ullambana Patra Sutra, Sanghadana, persembahan, Dharma Talk, serta pelimpahan jasa, Ullambana YBA 2026 mengajak umat untuk membawa Dharma keluar dari ruang ritual dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

 

Sebab penghormatan terbaik kepada leluhur bukan hanya mengenang nama mereka.

Penghormatan terbaik adalah meneruskan kebajikan mereka.

Persembahan terbaik kepada orang tua bukan hanya apa yang kita letakkan di altar.

Persembahan terbaik adalah kehidupan yang dijalani dengan benar.

Dan pelimpahan jasa terbaik tidak berawal saat kita mengucapkan doa di penghujung upacara.

 

Ia berawal saat kita memutuskan untuk menanam lebih banyak kebajikan sejak hari ini.

 

Semoga melalui momentum Ullambana, kita semakin mampu mengenang jasa orang tua dan leluhur dengan penuh rasa syukur, menghargai mereka yang masih bersama kita, menumbuhkan kemurahan hati, serta memperluas welas asih kepada semua makhluk.

 

Semoga segala kebajikan yang telah dilakukan menjadi sebab bagi berkurangnya penderitaan dan bertambahnya kebijaksanaan, kedamaian, serta kebahagiaan semua makhluk.

 

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Semoga semua makhluk berbahagia.

 

Young Buddhist Association (YBA) Indonesia — organisasi kepemudaan Buddhis nonsektarian, didirikan 27 Mei 2016 di Surabaya, dengan semangat “Humanity Across Religion.” yba.or.id | @youngbuddhistassociation | #WeAreYoung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *