6 Aug
Renungan Buddhis tentang kefanaan jabatan, harta, dan reputasi: tak ada yang benar-benar menjadi milik kita, kecuali perbuatan dan cara kita memperlakukan orang lain.
READ MORE6 Aug
Mengapa tradisi Tao, Khonghucu, dan Buddhisme memiliki cara berbeda dalam memaknai bulan ketujuh dan penghormatan kepada mereka yang telah meninggal? Dari kepedulian kepada arwah yang tak punya keturunan, bakti kepada leluhur, hingga pelimpahan kebajikan, ketiganya berangkat dari pertanyaan yang berbeda. Sebuah refleksi tentang bagaimana upacara bagi yang telah pergi juga membentuk batin mereka yang masih hidup.
READ MORE5 Aug
Kisah Atiśa Dipamkara yang menyeberangi samudra menuju Sumatra untuk berguru kepada Dharmakīrti, serta warisan welas asih yang kemudian dibawa ke Tibet.
READ MORE5 Aug
Mengenal disenfranchised grief, duka kehilangan kehamilan yang sering tak diakui, serta bagaimana memberi nama, ruang, dan makna dapat membantu proses berduka.
READ MORE4 Aug
Kisah seekor lumba-lumba bernama Fraggle yang membawa anaknya selama enam hari mengingatkan pada Kisā Gotamī, ibu yang mencari biji sesawi dari rumah yang tak pernah disentuh kematian. Artikel ini merefleksikan bagaimana Buddha tidak memaksa seseorang untuk “ikhlas”, melainkan membimbingnya memahami duka melalui pengalaman. Sebuah renungan tentang kehilangan, kasih sayang, dan ruang yang lembut bagi hati yang masih berduka.
READ MORE3 Aug
Penuaan, sakit, kematian, dan perpisahan bukanlah ketakutan baru—Buddha telah mengajarkannya dalam Upajjhaṭṭhāna Sutta (AN 5.57) sebagai lima perenungan harian. Artikel ini mengulas makna mendalam lima renungan tersebut, mengapa kita diajak mengingat kefanaan bukan untuk hidup dalam takut, melainkan untuk membangun welas asih, saling merawat, dan menyadari bahwa kebajikan adalah satu-satunya warisan yang selalu menyertai kita.
READ MORE2 Aug
Apakah ritual Buddhis benar-benar membentuk batin, atau hanya menjadi rutinitas? Artikel ini membahas makna sīlabbata-parāmāsa—belenggu ketiga yang diajarkan Buddha—serta menjelaskan mengapa yang menjadi masalah bukanlah ritual, melainkan keterikatan yang keliru terhadapnya. Dengan merujuk pada Dhammapada dan ajaran sotāpatti, tulisan ini mengajak kita melihat bagaimana bakti, pemahaman, dan praktik Dharma saling melengkapi dalam jalan menuju pembebasan.
READ MORE1 Aug
Kematian dapat datang tanpa aba-aba, bahkan di tengah aktivitas yang tampak biasa. Tragedi meninggalnya BNW setelah keluar dari sebuah wahana menjadi pengingat bahwa tubuh memiliki batas dan setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Dalam perspektif Buddhis, kita diajak tidak berspekulasi atau menyebarkan rumor, melainkan menumbuhkan welas asih, menjaga ucapan, menghargai kehidupan, dan melimpahkan jasa bagi mendiang serta keluarga yang ditinggalkan.
READ MORE1 Aug
Bagaimana hubungan Avalokiteśvara Bodhisattva dengan Amitābha Buddha? Dalam tradisi Mahāyāna, Avalokiteśvara digambarkan sebagai Bodhisattva penuh welas asih yang mendampingi Amitābha Buddha dalam membimbing makhluk menuju Alam Suci Sukhāvatī. Kisah mereka mengajarkan tentang welas asih, kebijaksanaan, dan praktik Dharma.
READ MORE1 Aug
Pendidikan sejati sering kali disalahpahami sebagai proses menimbun jawaban, padahal ia bermula di titik yang jauh lebih sederhana namun menantang, yaitu keberanian untuk bertanya. Selama bertahun-tahun menghabiskan waktu di bangku sekolah, kita cenderung dijejali dengan berbagai rumus, tanggal sejarah, dan nama-nama penting yang memang memiliki tempatnya tersendiri dalam perkembangan intelektual. Namun, ada satu keterampilan mendasar yang terkadang terabaikan dalam sistem formal kita, yakni kemampuan untuk bertanya demi sebuah pemahaman yang mendalam. Ada perbedaan mendasar antara guru yang sekadar memberikan jawaban dan guru yang mampu menumbuhkan kemampuan bertanya dalam diri muridnya, karena di sanalah proses belajar yang sesungguhnya mulai bernapas.
READ MORE