Dharma & Realita

Home / Event / Memaknai Kematian dan Seni Hidup Berkesadaran: Kolaborasi YBA dan Cetiya Mitra Uttama

Memaknai Kematian dan Seni Hidup Berkesadaran: Kolaborasi YBA dan Cetiya Mitra Uttama

Sabtu, 22 Agustus 2026

SURABAYA – Kematian kerap dipandang sebagai topik yang tabu dan menakutkan, namun suasana hangat dan penuh perenungan justru tercipta di Cetiya Mitra Uttama Surabaya pada Sabtu (22/8/2026) malam. Young Buddhist Association (YBA) berkolaborasi dengan Cetiya Mitra Uttama sukses menyelenggarakan bincang Dhamma interaktif bertajuk Grand Mindful Connect 8 yang mengangkat tema mendalam: “Kemana Kita Pergi Setelah Kematian? Apakah Kematian Adalah Akhir?”.

 

Dimulai pukul 18.00 WIB, forum ini menghadirkan Dewan Pelindung YBA, Bhante Nyanasila Thera, sebagai narasumber utama. Di hadapan puluhan pemuda Buddhis dan umat awam yang memadati ruangan, Bhante Nyanasila membuka perbincangan dengan mengingatkan bahwa kematian adalah sebuah kepastian universal yang sedang dituju oleh setiap makhluk tanpa memandang latar belakang sosial maupun usia.

Kematian Bukan Akhir dalam Pandangan Buddhis

 

Meluruskan pemahaman mengenai kehidupan setelah kematian, Bhante Nyanasila menguraikan bahwa dalam sudut pandang Buddhis, kematian bukanlah akhir mutlak, melainkan berhentinya fungsi jasmani yang diikuti oleh kesinambungan kesadaran menuju alam berikutnya. Kelahiran kembali bukanlah perpindahan jiwa yang kekal, melainkan proses hukum sebab-akibat (kamma) yang diibaratkan seperti satu pelita menyalakan pelita lain, atau biji mangga yang tumbuh menjadi pohon baru. Di antara ragam karma, kebiasaan bajik yang dipupuk secara konsisten dalam keseharian (āciṇṇa-kamma) memegang peranan krusial sebagai penuntun batin menuju alam bahagia saat ajal menjelang.

Pelimpahan Jasa dan Latihan Menghadapi Kematian


Bertepatan dengan momentum bulan Ulambana, pembahasan mengenai pelimpahan jasa (pattidana) menjadi sorotan penting. Bhante Nyanasila menegaskan bahwa melimpahkan jasa bukan sekadar ritual simbolis menuang air atau melunasi “utang karma”, melainkan manifestasi cinta kasih (mettā) dan welas asih (karuṇā) yang melampaui batas kehidupan. Ketika kebajikan dilakukan dengan sukacita murni dan diperuntukkan bagi leluhur di alam rendah seperti alam peta, getaran sukacita (anumodanā) itulah yang memampukan mereka terbebas dari penderitaan.


Menariknya, Bhante mengibaratkan latihan menghadapi kematian serupa dengan latihan tidur lelap di malam hari. Seseorang yang terbiasa menenangkan pikiran, berdamai dengan rasa sakit jasmani melalui perhatian penuh (mindfulness), dan menjaga kebersihan batin akan mampu berpulang dengan damai. Beliau juga membagikan pendekatan praktis dalam mendampingi orang yang sedang berada dalam fase kritis, di mana kehadiran fisik yang hangat, sentuhan welas asih, dan kata-kata yang menenteramkan terbukti jauh lebih efektif dalam membimbing batin pasien menuju kedamaian.


Melalui kemasan diskusi yang interaktif dengan bantuan jajak pendapat digital Mentimeter dan sesi tanya-jawab terbuka, Grand Mindful Connect 8 berhasil mengajak peserta untuk mengalihkan fokus dari sekadar spekulasi masa depan menuju tindakan nyata di masa kini. Menjaga moralitas, memperbanyak kebajikan, dan hidup berkesadaran menjadi bekal paling berharga untuk menjalani sisa hidup yang bermakna sebelum menyongsong garis akhir kehidupan.

 

Young Buddhist Association (YBA) Indonesia — organisasi kepemudaan Buddhis nonsektarian, didirikan 27 Mei 2016 di Surabaya, dengan semangat “Humanity Across Religion.” yba.or.id | @youngbuddhistassociation | #WeAreYoung

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *