SURABAYA – Pertanyaan mengenai kehidupan setelah kematian, dan apakah kita memiliki kuasa untuk menentukan akan terlahir sebagai apa di kehidupan selanjutnya, selalu menjadi misteri eksistensial yang memicu perdebatan batin umat manusia. Mengupas tuntas rasa penasaran tersebut melalui perpaduan kacamata ajaran Buddha, psikologi modern, dan kesadaran spiritual, Young Buddhist Association (YBA) kembali sukses menyelenggarakan bincang Dhamma interaktif bertajuk Grand Mindful Connect 9.
Digelar di ET Space, lantai 1 Spazio Buildings, Surabaya pada Sabtu (5/9/2026) malam, acara ini berhasil menyedot antusiasme seratus lebih pemuda Buddhis dan masyarakat umum. Mengangkat tema yang sangat menggugah, “Can We Choose Our Next Life? Bisakah kita menentukan akan lahir sebagai siapa di kehidupan berikutnya?”, forum diskusi ini dikemas dengan suasana yang santai dan kekinian, namun tetap sarat akan makna spiritual yang mendalam.
Tepat pukul 18.30 WIB, acara dibuka dengan hangat untuk menyambut narasumber utama, Metta Surya Wijaya, S.Kom, MCH. Sebagai seorang Indigo Buddhis yang juga berprofesi sebagai konselor hipnoterapi dan praktisi meditasi spiritual, Metta membawa pendekatan yang sangat unik dan segar. Di hadapan para audiens, ia membuka perbincangan dengan menganalogikan pikiran bawah sadar manusia ibarat sebuah flashdisk berkapasitas tanpa batas. Flashdisk ini terus merekam setiap jejak tindakan, ucapan, emosi, hingga niat terdalam (cetana) di sepanjang kehidupan seseorang, yang kelak akan menjadi bekal perjalanan menuju kehidupan berikutnya.
Menjawab pertanyaan krusial dari tema acara, Metta menguraikan bahwa dalam sudut pandang Buddhis, kelahiran kembali bukanlah hasil undian nasib acak dari suatu entitas luar. Kelahiran kembali adalah cetak biru yang kita rancang sendiri. Meskipun kita tidak bisa secara harfiah “memesan” tubuh fisik, kekayaan, atau keluarga tertentu selayaknya memilih barang dari katalog belanja, kita memiliki kendali penuh atas kualitas pikiran dan perbuatan yang menjadi benihnya.
Beliau menjelaskan mekanisme hukum karma yang bekerja secara presisi. Energi karma, terutama kebiasaan baik atau buruk yang diulang-ulang secara konsisten di kehidupan saat ini (āciṇṇa-kamma), akan menjadi kekuatan pendorong utama. Hukum alam semesta secara otomatis akan menarik kesadaran (viññana) seseorang untuk terlahir di alam kehidupan yang frekuensinya paling selaras dengan getaran mental dan timbunan karma yang mendominasi batin saat menjelang ajal (maraṇāsanna-kamma). Jika batin terbiasa penuh kebencian, alam menderita yang akan merespons; sebaliknya, batin yang penuh welas asih akan mengantarkan pada alam bahagia.
Memanfaatkan intuisi spiritualnya sebagai seorang Indigo Buddhis serta keahliannya di bidang hipnoterapi, Metta menyoroti eratnya korelasi antara ajaran pelepasan (letting go) dalam Buddhisme dan cara kerja pikiran bawah sadar (subconscious mind). Ia memaparkan bahwa trauma masa lalu, dendam, rasa bersalah yang tak termaafkan, serta kemelekatan yang berlebihan sering kali terkubur di pikiran bawah sadar. Beban mental inilah yang nantinya bertransformasi menjadi “jangkar karma” yang menahan seseorang, membuatnya sulit bertransisi dan menarik kesadarannya ke alam penderitaan saat momen kematian terjadi.
Oleh karena itu, Metta sangat menekankan pentingnya mempraktikkan meditasi dan mindfulness (hidup berkesadaran) setiap hari, bukan sekadar sebagai tren relaksasi instan. “Meditasi adalah sarana untuk melatih, membersihkan, dan me-reset pikiran bawah sadar kita. Melalui meditasi, kita berlatih untuk menyadari emosi negatif yang muncul, mengakuinya, lalu melepaskannya,” ungkap Metta. Batin yang terlatih untuk melepaskan kemelekatan akan lebih siap dan tenang (die peacefully) ketika menghadapi perpisahan terbesar dalam hidup, yaitu kematian fisik.
Seperti tradisi Grand Micon sebelumnya, acara ini tidak berjalan satu arah. Dipandu oleh moderator yang energik, sesi tanya-jawab berlangsung sangat interaktif, melibatkan penggunaan platform polling digital yang memancing opini peserta. Para pemuda yang hadir tampak kritis melemparkan berbagai pertanyaan nyata, mulai dari ketakutan akan kematian yang mendadak, hingga cara menetralisir kebiasaan buruk yang sudah terlanjur berakar sejak kecil.
Metta memberikan panduan yang menenangkan, mengingatkan bahwa momen saat ini (present moment) adalah satu-satunya waktu di mana kita memegang kendali. Menyesali masa lalu secara berlebihan hanya akan menambah karma buruk berupa kecemasan. Sebaliknya, menerima diri sendiri dan bertekad memperbaiki pola pikir mulai detik ini adalah bentuk penciptaan karma baik yang paling fundamental.
Grand Mindful Connect 9 ditutup dengan sebuah kesimpulan puitis nan kuat: Cara paling pasti untuk “memilih” kehidupan yang baik di masa depan adalah dengan menghidupi masa kini sebaik-baiknya. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah ujian transisi. Dengan terus menjaga moralitas (Sila), memupuk kebajikan, dan melatih kewaspadaan batin (Samadhi), generasi muda Buddhis diajak untuk mulai “menabung” kondisi-kondisi ideal, guna merajut kebahagiaan sejati di kehidupan saat ini, maupun di kelahiran yang akan datang.
Tonton selengkapnya di Youtube Channel dari Young Buddhist Association
Young Buddhist Association (YBA) Indonesia — organisasi kepemudaan Buddhis nonsektarian, didirikan 27 Mei 2016 di Surabaya, dengan semangat “Humanity Across Religion.” yba.or.id | @youngbuddhistassociation | #WeAreYoung
Leave a Reply