27 Oct
Pada masa Buddha Gautama, komunitas monastik (Sangha) awalnya hanya terdiri dari para bhikkhu (biksu). Keinginan untuk mendirikan komunitas bhikkhuni (biksuni) pertama kali muncul ketika Mahāpajāpatī Gotamī – bibi dan ibu angkat.....
READ MORE27 Oct
Sang Buddha Gautama, pendiri agama Buddha, sepanjang hidupnya berupaya membimbing makhluk menuju pembebasan dari penderitaan. Salah satu langkah terpenting yang diambilnya adalah......
READ MORE27 Oct
Bayangkan sebuah malam hening ketika pertanyaan eksistensial muncul di benak: “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah aku akan berdoa dan taat pada agamaku?” Pertanyaan ini menggelitik hati nurani dan memaksa kita merenung......
READ MORE22 Oct
Bayangkan melepas alas kaki dan menjejakkan kaki telanjang di atas tanah atau rumput yang basah oleh embun pagi. Anda merasakan dinginnya bumi, tekstur tanah, dan denyut kehidupan alam di bawah telapak kaki.
READ MORE20 Oct
Hari Raya Dīpāli, dikenal luas sebagai Deepavali atau Diwali, adalah sebuah perayaan Festival Cahaya yang sarat makna spiritual dan budaya. Nama Deepavali berasal dari bahasa Sanskerta dīpāvali yang berarti “deretan lampu”.
READ MORE15 Oct
Terbentuknya Kementerian Agama RI pada 3 Januari 1946 belum otomatis menyediakan layanan bagi pemeluk agama non-Muslim 1. Unit khusus untuk agama Buddha baru muncul melalui proses panjang demi kesetaraan hak sesuai Pancasila dan UUD 1945.
READ MORE10 Oct
Ilustrasi: Tumpukan uang sedekah di depan altar vihara, melambangkan dana umat yang dikumpulkan. Donasi dari umat Buddha untuk vihara atau yayasan adalah amanah suci yang seharusnya dikelola demi pengembangan Dharma dan kesejahteraan bersama. Umat berdana (berdonasi) dengan tulus, berharap dananya dipakai tepat sasaran: untuk perawatan vihara, kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan Dharma, atau membantu yang membutuhkan.
READ MORE8 Oct
Suasana vihara di akhir Oktober biasanya meriah: lampu hias berkedip, spanduk berwarna emas memuat nama donatur, dan panggung hiburan menggelar pertunjukan artis. Di tengah riuh rendah ini, tak semua orang ingat bahwa Kathina pada mulanya hanyalah upacara sederhana: umat menawarkan selembar kain pada para bhikkhu sebagai ungkapan syukur setelah para bhikkhu menyelesaikan vassa – masa tiga bulan berdiam
READ MORE24 Sep
Dalam tradisi Buddhis, sumbangan dana untuk vihara atau Sangha sering disebut sebagai “uang sepuluh penjuru” – uang yang dihimpun dari para umat di segala penjuru dengan niat kebajikan. Setiap umat berdana dengan tulus demi mendukung kegiatan spiritual, operasional vihara, perawatan tempat ibadah, serta amal sosial.
READ MORE24 Sep
Budaya dāna (berdana) di kalangan umat Buddha umumnya sangat kuat, terutama ketika berdana untuk keperluan tradisional seperti kebutuhan Saṅgha (para bhikkhu) dan pembangunan sarana ibadah. Setiap tahun pada musim Kathina, antusiasme umat untuk berdana sangat tinggi.
READ MORE