Tag Dharma & Realita

24 Sep

Penyalahgunaan Dana “Uang Sepuluh Penjuru”: Dampak Buruk dan Solusinya

Dalam tradisi Buddhis, sumbangan dana untuk vihara atau Sangha sering disebut sebagai “uang sepuluh penjuru” – uang yang dihimpun dari para umat di segala penjuru dengan niat kebajikan. Setiap umat berdana dengan tulus demi mendukung kegiatan spiritual, operasional vihara, perawatan tempat ibadah, serta amal sosial.

READ MORE

24 Sep

Menggerakkan Pemuda Buddhis melalui Perubahan Pola Pendanaan

Budaya dāna (berdana) di kalangan umat Buddha umumnya sangat kuat, terutama ketika berdana untuk keperluan tradisional seperti kebutuhan Saṅgha (para bhikkhu) dan pembangunan sarana ibadah. Setiap tahun pada musim Kathina, antusiasme umat untuk berdana sangat tinggi.

READ MORE

24 Sep

Koin di Balik Jubah Kathina: Mengusut “Komisi” Dana Umat di Vihara

Di balik perayaan Kathina yang khidmat, terselip praktik kontroversial: beberapa vihara diduga meminta komisi dari dana persembahan umat. Investigasi ini menyoroti tarik-menarik antara idealisme etika Buddhis dan kebutuhan operasional vihara, disertai reaksi umat serta Sangha. Pengamatan ke negara Buddhis lain menguak pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola dana suci umat.

READ MORE

19 Sep

Penafsiran Ksitigarbha Sutra – Relatable untuk Generasi Z – Bagian Terakhir

Pada Bab pertama ini, Buddha Śākyamuni melakukan sesuatu yang sangat istimewa: Beliau naik ke Surga Trayastriṃśa (surga para dewa tingkat ke-33) untuk mengajarkan Dharma kepada ibunda-Nya, Ratu Māyā. Keberadaan Buddha di surga itu menarik perhatian tak terhitung makhluk suci. Para Buddha dan Bodhisattva Mahāsattva dari segala penjuru muncul di istana surgawi tersebut, bersama para dewa, nāga, roh, dan makhluk gaib lainnya. Mereka datang untuk memberi hormat dan memuji Buddha Śākyamuni yang, meskipun hidup di masa penuh lima kekeruhan (masa penuh kerusakan moral dan spiritual), berhasil memperlihatkan kebijaksanaan agung dan melakukan mukjizat demi menuntun makhluk yang keras kepala menuju jalan kebenaran .

READ MORE

18 Sep

Penafsiran Ksitigarbha Sutra – Relatable untuk Generasi Z – Bagian Pertama

Pada Bab pertama ini, Buddha Śākyamuni melakukan sesuatu yang sangat istimewa: Beliau naik ke Surga Trayastriṃśa (surga para dewa tingkat ke-33) untuk mengajarkan Dharma kepada ibunda-Nya, Ratu Māyā. Keberadaan Buddha di surga itu menarik perhatian tak terhitung makhluk suci. Para Buddha dan Bodhisattva Mahāsattva dari segala penjuru muncul di istana surgawi tersebut, bersama para dewa, nāga, roh, dan makhluk gaib lainnya. Mereka datang untuk memberi hormat dan memuji Buddha Śākyamuni yang, meskipun hidup di masa penuh lima kekeruhan (masa penuh kerusakan moral dan spiritual), berhasil memperlihatkan kebijaksanaan agung dan melakukan mukjizat demi menuntun makhluk yang keras kepala menuju jalan kebenaran .

READ MORE

13 Sep

Kasus Penembakan Charlie Kirk: Motif Pelaku, Dampak Sosial-Politik, dan Pesan Buddha Dharma bagi Generasi Muda

Charlie Kirk, seorang aktivis konservatif dan pendiri organisasi pemuda Turning Point USA, tewas ditembak pada 10 September 2025 saat berbicara di sebuah acara kampus di Utah. Insiden ini mengejutkan publik Amerika Serikat dan mendapat sorotan luas. Artikel ini akan mengulas motif pelaku penembakan – apakah terkait isu Palestina, SARA (suku, agama, ras, antargolongan), atau faktor lain – dengan merujuk pada hasil penyelidikan resmi FBI/kepolisian dan analisis publik. Selain itu, dibahas dampak sosial-politik kasus ini terhadap iklim diskusi publik, polarisasi ideologis, dan generasi muda.

READ MORE

12 Sep

Refleksi Buddha Dharma bagi Gen Z dari Kasus Kerusuhan Nepal

Kerusuhan hebat mengguncang Nepal pada awal September 2025, dipicu oleh aksi protes besar yang didominasi generasi muda Gen Z. Unjuk rasa ini bermula dari kemarahan terhadap korupsi pemerintah serta keputusan mendadak pemerintah Nepal memblokir media sosial, yang dianggap membungkam kebebasan berekspresi.

READ MORE

12 Sep

Manusia Indonesia: Cermin Mochtar Lubis yang Masih Menyala hingga 2025

Apakah kita tahu bahwa Mochtar Lubis sudah menulis kritik tajam tentang karakter bangsa Indonesia sejak tahun 1977? Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki yang kemudian dibukukan dengan judul “Manusia Indonesia”, ia mengemukakan tujuh sifat yang menghambat kemajuan bangsa. Kini, hampir setengah abad berlalu, di tahun 2025, apakah kita sudah berubah? Atau, jangan-jangan, cermin yang diangkat Lubis masih memantulkan wajah yang sama?

READ MORE

10 Sep

Madilog Tan Malaka dan Buddha Dharma: Persamaan Filsafat, Etika, dan Semangat Pembebasan

Tan Malaka, seorang pemikir revolusioner Indonesia, menuangkan gagasannya dalam buku Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika) pada 1943. Karya ini menjadi magnum opus-nya yang merumuskan metode berpikir baru bagi rakyat Indonesia.....

READ MORE

9 Sep

Ketika Pejabat Kehilangan Rasa Malu dan Takut Berbuat Salah

Kita kian sering menyaksikan berita pejabat publik terjerat korupsi atau menyalahgunakan kekuasaan tanpa sedikit pun ekspresi malu atau takut. Bahkan tidak jarang, pelaku korupsi masih bisa tersenyum tanpa rasa bersalah ketika digiring petugas KPK ke penjara....

READ MORE